SuaraBali.id - Tingginya angka kasus bunuh diri di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat kebutuhan tenaga psikolog di layanan kesehatan daerah tersebut dirasa sangat perlu.
Tujuannya tentu untuk melayani konseling kesehatan mental hingga akhirnya bisa meredam angka bunuh diri.
Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (FKM Undana), Indra Y. Kiling saat ditemui digtaara.com -jaringan suarabali.id di ruang kerjanya, Selasa 7 November 2023 menyebut bahwa layanan ini sudah bukan merupakan hal tabu, kata dia, justru perlu ada untuk mendampingi perkembangan peradaban manusia modern seperti saat ini.
Adanya psikolog di tiap-tiap puskesmas yang bisa dijangkau masyarakat memungkinkan untuk meredam tingkat stres atau depresi akibat permasalahan rumah tangga, ekonomi, maupun berbagai hal lainnya, hingga menekan keinginan untuk bunuh diri.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) NTT sendiri sebelumnya pernah merangkum data desa menurut keberadaan korban bunuh diri.
Pada 2018 lalu ada 158 desa di NTT yang memiliki kasus bunuh diri dan tertinggi di Flores Timur dengan 18 desa.
Nyaris seluruh kabupaten di NTT memiliki 1 hingga belasan desa dengan kasus bunuh diri terkecuali Sabu Raijua yang tanpa kasus sama sekali tahun itu.
Pada 2021 lalu BPS NTT mencatat adanya 145 desa yang ada di kabupaten/kota di NTT dengan kasus bunuh diri.
Kabupaten terbanyak kasus bunuh diri adalah Flores Timur yaitu di 21 desa dan Sumba Barat Daya dengan 20 desa. Sepanjang 2021 itu hanya Lembata dengan 1 desa yang terjadi kasus bunuh diri.
"Sorotannya sudah banyak sekali. Perlu ada psikolog di puskesmas, di pustu, saat ini kan di sini belum ada sama sekali," ujarnya.
Selam aini karena tak ada psikolog di tengah masyarakat membuat banyak orang menceritakan kondisinya kepada tokoh agama misalnya romo, pendeta atau ustadz.
Masalahnya, menurutnya tidak semua tokoh agama pun paham apalagi terlatih soal isu kesehatan mental apalagi dalam memberikan solusi psikologis.
"Karena kalau seseorang merasa semakin berdosa malah jadi semakin hilang semangat hidupnya. Jadi 'meja' untuk konsultasi kesehatan mental itu tempatnya memang khusus," tambahnya.
Ia menyebut masalah sehari-hari bisa saja menjadi pemicu terganggunya mental seseorang dan sudah sangat wajar bila dikonsultasikan ke psikolog.
Kebiasaan ini yang diterapkan masyarakat di negara maju hingga menjadi kesetaraan dalam layanan kesehatan mental.
Berita Terkait
-
Kasus Dugaan Intimidasi dr. Icha Naik Penyidikan, Empat Terlapor Mulai Didalami
-
Tak Sekadar Bersih-Bersih, Mandi Kini Jadi Ritual Relaksasi untuk Jaga Kesehatan Mental
-
Menjadi Dermaga Sebelum Menyelam: Kisah Komunitas Menemani Perjalanan Pulih
-
Kerja Secukupnya, Waras Seutuhnya: Membedah Tren Quiet Quitting ala Gen Z
-
Dua Mahasiswa Indonesia Bawa Isu Kesehatan Mental Lewat Sepak Bola ke Markas PBB
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Guru SD di Buleleng Diduga Cabuli Murid, Polisi Lakukan Penyelidikan
-
Bukan Sekadar Diskriminasi, Event Lari Khusus Bule di Bali Ternyata Belum Kantongi Izin?
-
25 Ton Ikan Nila Mati Massal Akibat Letupan Belerang di Danau Batur
-
Beli Sunscreen Kahf Online Original Hanya di Blibli
-
Rumah Dosen di Klungkung Dibobol, 12 Sertifikat Tanah Raib Dicuri