SuaraBali.id - Penangkapan tiga terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri di di Desa Rumak, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, Senin (23/10/2023) menjadi sorotan.
Terlebih kini diketahui bahwa salah seorang terduga teroris itu adalah aparatur sipil negara (ASN) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB.
Masih ditemukannya terduga teroris di NTB diduga adanya pendekatan secara pribadi yang dilakukan kepada sasaran. Masyarakat diminta untuk tidak cepat tergiur oleh janji-janji manis.
Tokoh agama sekaligus Ketua MUI NTB, Prof. H. Saiful Muslim mengatakan ada janji-janji manis pasti yang diiming-imingkan kepada sasarannya. Seperti informasi yang didapatkan, janji yang diberikan biasanya jalan untuk masuk surga.
"Ini kurangnya pengetahuan agama mereka-mereka yang terpapar ini. Kalau punya pengetahuan agama yang bagus saya rasa tidak mudah diajak untuk itu," katanya Kamis (26/10/2023) pagi kepada Suarabali.id.
Menurutnya jangan terlalu fanatik apalagi tidak terlalu mengerti yang diikuti. Jika ada ajakan seperti itu, mantan Rektor IAIN Mataram ini meminta agar tidak diterima begitu saja.
"Kalau ada ajakan bisa berdiskusi dengan orang taunya, gurunya atau siapa kalau dia siswa ya. Kita bisa berpikir berkali-kali kalau ada yang menjanjikan surga," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak membuat keputusan sendiri tanpa harus berdiskusi terlebih dahulu. Melalui diskusi dengan orang tua atau guru akan ada pertimbangan yang diberikan sebelum mengambil keputusan.
"Kalau di rumah minta pertimbangan orang tua. Kalau ada ajakan yang aneh-aneh tinggal dikomunikasikan sama guru," sarannya.
Baca Juga: Sirkuit Mandalika Tak Dimasukkan Jadi Tuan Rumah WSBK Musim Depan
Masih adanya terduga teroris yang ditangkap di NTB, Prof. Muslim menegaskan bukan menjadi indikator bahwa paham radikal bisa cepat masuk. Hanya saja, masyarakat masih menganggap semuanya baik.
"Kalau orang bicara agama itu dianggap baik. Masih huznudzon. Kalau ada yang mengajak kebaikan kan siapa yang tidak mau," ujarnya.
Untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal yang cukup masif, masyarakat diminta untuk mengetahui latar belakang orang yang mengajak. Ia juga mengingatkan kepada semua masyarakat terutama para generasi baru untuk lebih banyak bertanya dan meminta pertimbangan jika ada ajakan.
"Itu perlu diwaspadai. Konsultasi dulu dengan orang tua. Orangtua perlu diingatkan agar menjaga anak-anak. Komunikasi antar anak dan orang tua harus lebih dekat lagi. Komunikasi dua arah itu harus terbangun," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB TGH. Muhammad Subki Sasaki mengatakan ajaran pendidikan agama yang harus diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan islam yang rahmatan lilalamain.
"Islam yang berkebangsaan, islam yang berkebudayaan, islam yang berkeIndonesiaan seperti itu," ujarnya.
Berita Terkait
-
Anak Marah Gawainya Dilihat? Densus 88 Ungkap 6 Ciri Terpapar Ekstremisme Berbahaya
-
Miris! Densus 88 Ungkap 70 Anak Indonesia Terpapar Radikalisme, Pemicunya Tak Terduga
-
Seorang Remaja di Rusia Serang Sekolah Usai Terinspirasi Aksi Bom SMA 72
-
Densus 88: 70 Anak Terjerat Grup 'True Crime', Berawal dari Bullying dan Broken Home
-
Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 4 Mobil Keluarga Bekas 50 Jutaan: Mesin Awet, Cocok Pemakaian Jangka Panjang
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
Pilihan
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria