SuaraBali.id - Salah satu kesenian Bali yang menarik untuk dibahas adalah topeng. Jika kalian pernah berkunjung ke Bali pasti pernah melihat kesenian tarian Bali banyak yang menggunakan topeng.
Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya bagaimana sejarah adanya topeng di Bali ini?
Kesenian topeng merupakan salah satu kesenian Bali yang cukup terkenal. Seni ini termasuk dalam seni pertunjukkan, pasalnya tarian Bali umumnya menggunakan topeng sebagai propertinya.
Menurut sejarah, kesenian topeng ini sudah ada sejak zaman prasejarah. Melansir dari laman Kemendikbud, Penggambaran rajah menyerupai topeng pada permukaan badan nekara Bulan Pejeng yang koni dilimpan di Pura Penataran Sasih, Pejeng, Gianyar dapat dijadikan tolak ukur awal munculnya tradisi topeng Bali.
Tradisi ini mulanya justru bukan untuk kesenian, melainkan berkaitan dengan aktivitas keagamaan sebagai pelengkap sarana upacara. Barulah kemudian berkembang menjadi sarana aktivitas seni.
Sementara itu, jenis seni topeng di Bali ini terdiri dari 3 golongan, yaitu topeng Wali (topeng dikeramatkan), topeng Bebali sebagai tari topeng pengantar upacara adat, dan Tari Topeng Bali-Balian, sebuah pertunjukkan tari Topeng untuk hiburan semata.
Bukan hanya sebagai hiasan atau properti tarian semata. Masyarakat Bali percaya bahwa topeng yang dijadikan pajangan maupun tarian dapat menjadi penolak bala, menurunkan hujan hingga menyembuhkan penyakit.
Jenis Topeng Bali ini dikelompokkan berdasarkan strata sosial lakon yang ditampilkan. Topeng keras menggambarkan sosok petarung.
Kemudian topeng tua menggambarkan sosok sesepuh, topeng bondres menggambarkan sosok rakyat biasa dan topeng ratu menggambarkan kalangan bangsawan.
Baca Juga: Pamit Cari Ikan, Sampan Warga Buleleng Ditemukan Kosong Hanya Tersisa Topi
Selain itu ada beberapa jenis topeng khusus yang digambarkan dengan bentuk tertentu. Mulai dari topeng calonarang yang menggambarkan sosok buruk rupa, gigi bertaring, mata mebelalak. Topeng ini menjadi sebuah lambang kejahatan.
Ada juga topeng jauk berbentuk peralihan antara manusia serta raksasa yang berwatak kasar. Topeng ini mempresentasikan makhluk yang membantu Barong dalam menghadapi Rangda.
Jenis topeng atau fungsi topeng umumnya yang kita tahu memang sebagai bagian dari kesenian. Padahal topeng juga berfungsi dalam berbagai upacara adat.
Dalam fungsi ritual tertentu topeng ini digunakan di wajah untuk memberikan penonjolan, distorsi wajah dan membangkitkan emosi selama upacara ritual berlangsung.
Kontributor: Kanita Auliyana Lestari
Berita Terkait
-
Viral Gerombolan Turis Israel Mencuri di Lombok, Bayar Uang Damai Rp48 Juta Lalu ke Bali
-
Menyusuri Makam Imam Al Bukhari di Uzbekistan, Ada Jejak Bung Karno di Soekarno Hall
-
Cara Asyik Menikmati Momen Healing dengan Sauna hingga Kuliner Sehat di Ubud Bali
-
Menilik Bakso: Antara Sejarah, Akulturasi Budaya, dan Momen Bareng Keluarga
-
Tolak Main di Eredivisie, Striker Bali United Jort van der Sande Menyesal Berkarier di Indonesia?
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida
-
BRI Borong 4 Penghargaan di Top 20 Financial Institutions Award 2026
-
Penyelam Tewas saat Menembak Ikan, Sempat Berteriak Minta Tolong
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern