Masyarakat Trunyan mempunyai tradisi dimana jenazah dimakamkan di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Jenazah hanya dipagari dengan anyaman bambu.
Desa ini memiliki 3 sema (kuburan) yang diperuntukkan bagi 3 jenis kematian. Apabila seorang warga Trunyan meninggal secara wajar, anggota tubuhnya lengkap ataupun sudah menikah, mayatnya akan ditutupi dengan kain putih, diupacarai kemudian diletakkan tanpa dikubur dibawah pohon besar bernama Taru Menyan. Tempat ini berada di lokasi yang bernama Sema Wayah.
Namun, jika kematiannya tidak wajar seperti karena kecelakaan, bunuh diri, ataupun dibunuh orang maka mayatnya akan diletakkan di Sema Bantas.
Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah akan diletakkan di Sema Muda.
Jumlah jenazah yang diletakkan di bawah Taru Menyan tidak boleh lebih dari 11 orang. Jumlah ini memang sudah menjadi ketentuan secara turun temurun yang diwariskan oleh leluhurnya.
Apabila nantinya ada jenazah baru, maka tempat jenazah orang lain yang lebih dulu diletakkan akan digusur, sehingga jumlahnya tetap 11.
Siapa yang paling awal diletakkan di antara 11 jenazah tersebut, jenazah itulah yang akan dikeluarkan dari pekarangan kuburan. Tulang-tulangnya kemudian diletakkan di sekitar kuburan, begitu pun barang-barang bawaan seperti perabot dan busana pemberian keluarganya.
Di sekitar kuburan berserakan tulang-tulang yang dikeluarkan dari pekarangan pemakaman karena ada jenazah lain yang secara bergiliran menempati.
Selain tulang-tulangnya, ada puluhan tengkorak jenazah yang usianya sudah tua. Tengkorak disusun rapi yang tak jauh dari 11 kuburan tersebut, tepatnya di bawah pohon Taru Menyan.
Baca Juga: Pemain Muda Bali United Masih Perlu Adaptasi Dengan Lingkungan Tim Senior
Jenazah di Desa Trunyan hanya diletakkan dan ditutupi dengan kain putih, walaupun begitu jenazah tidak menimbulkan aroma bau busuk dan tidak dihinggapi oleh serangga seperti lalat, ulat dll.
Hal ini disebabkan oleh keberadaan Taru Menyan (pohon kayu Menyan) yang dapat mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat.
Taru Menyan, Taru berarti kayu dan Menyan dapat diartikan harum. pohon kayu Menyan ini hanya tumbuh di daerah ini. Kemudian Taru Menyan lebih dikenal dengan Trunyan yang diyakini sebagai asak usul nama desa tersebut.
Kontributor : Kanita
Berita Terkait
-
Cara Asyik Menikmati Momen Healing dengan Sauna hingga Kuliner Sehat di Ubud Bali
-
Tolak Main di Eredivisie, Striker Bali United Jort van der Sande Menyesal Berkarier di Indonesia?
-
Tradisi Smong Simeulue: Bukti Cerita Rakyat Mampu Mitigasi Tsunami Aceh
-
Prabowo Ungkap Penyebab Antrean BBM di Bali, Bukan karena Stok Menipis
-
Mau Liburan Natal dan Akhir Tahun Makin Berkesan? Ini Pilihan Aktivitas Seru di Bali
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo