SuaraBali.id - Belasan kepala keluarga korban abrasi akhir tahun 2022 lalu di Lingkungan Mapak Indah Kecamatan Sekarbela Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat masih menanggung derita.
Pasalnya, hingga saat ini belum ada tempat tinggal yang bisa ditempati sebagai ganti rumahnya yang rusak akibat dihantam ombak.
Salah satu korban abrasi di Lingkungan Mapak Indah, Husni menuturkan dia bersama anggota keluarganya harus tetap meminjam rumah tetangganya sementara waktu.
Karena tempat tinggalnya hanya tersisa satu ruangan akibat hantaman ombak.
“Sampai sekarang belum ada gantinya. Saya numpang di rumah tetangga sampai sekarang,” katanya Senin (5/6) sore.
Sisa bangunan rumahnya yang masih ada saat ini tidak berani ditempati. Pasalnya, sudah sangat dekat dengan pantai, meski demikian dimanfaatkannya untuk beristirahat pada siang hari setelah pergi melaut.
“Tidak berani kita nginep di sini kalau malam. Karena takut nanti datang ombak lagi,” ungkapnya.
Ia mengatakan, usaha pemerintah untuk membuatkan hunian sementara kepada korban abrasi sudah mulai. Namun berdasarkan informasi yang diterima, masih dalam proses-proses yang lain sehingga bangunan fisik belum bisa dilakukan.
“Memang persiapannya sudah ada. Tapi katanya sih belum ada yang menang tender,” katanya.
Meski sudah ada upaya dari pemerintah, Husni merasa malu untuk tinggal lebih lama lagi di rumah tetangga.
Karena dia tidak sendiri melainkan bersama istri, satu orang anak dan dua cucu harus ikut bersamanya.
“Harapan warga yang lain juga sama agar segera bisa dibangunkan tempat tinggal oleh pemerintah,” harapnya.
Korban yang lain, Rianah mengatakan bencana alam abrasi yang terjadi menghancurkan sebagian besar bangunan rumahnya. Saat ini masih ada sisa untuk ditempati, namun anak-anaknya tidak berani untuk tinggal di sana. Hantaman ombak yang begitu keras waktu itu membuat anak-anaknya trauma.
“Malam itu takut. Karena kan tiba-tiba besar. Kalau tidak begitu saya diam di sini. Tapi kan anak-anak tidak berani juga. Sudah trauma,” katanya.
Rumah yang ditempati saat ini milik anak kepala lingkungan. Karena kebetulan rumah tersebut kosong sehingga bisa ditempati sembari menunggu bantuan hunian dari pemerintah.
Berita Terkait
-
Profil Timnas Pantai Gading: Generasi Baru Gajah Afrika Siap Mengguncang Piala Dunia 2026
-
PBNU Tetapkan Jadwal Muktamar ke-35 Agustus 2026, NTB hingga Jatim 'Berebut' Jadi Tuan Rumah
-
Liburan Tak Biasa di Jakarta: Sensasi Makan di Atas Katamaran Sambil Menyusuri Sungai Tahang
-
Menyusuri Teduh Pantai Cemara di Ujung Selatan Jember
-
Didier Drogba Legenda Pantai Gading: Predator Paling Mematikan dalam Sejarah Piala Dunia
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Hari Ini, BRI Cairkan Dividen Tunai Rp31,47 Triliun kepada Pemegang Saham
-
Nobar Film 'Pesta Babi' di Unram Dibubarkan, Wakil Rektor: Saya Hanya Menjalankan Perintah
-
BRILink Agen Jadi Penggerak Ekonomi Desa dengan Jangkauan Lebih dari 1,18 Juta Agen
-
Ekosistem Holding UMi Dorong Literasi Keuangan dan Transformasi Pelaku Usaha Mikro
-
Mengapa Banyak Jemaah Haji Asal NTB Kehilangan Nafsu Makan? Ternyata Ini Penyebabnya