- Pihak keamanan Universitas Mataram membubarkan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi pada Kamis malam, 7 Mei 2026.
- Wakil Rektor Dr. Sujita menyatakan pembubaran dilakukan atas perintah untuk menjaga kondusifitas lingkungan di dalam kampus.
- Mahasiswa berencana memindahkan lokasi pemutaran film tersebut ke tempat lain setelah dilarang pihak universitas di kampus.
SuaraBali.id - Nonton bareng (nobar) film "Pesat Babi" di Universitas Mataram (UNRAM), pada Kamis malam, 7 Mei 2026 dibubarkan pihak keamanan kampus. Hal ini menimbulkan keributan antara mahasiswa dengan petugas.
Film dokumenter tersebut merupakan karya jurnalis dan sineas nasional Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Dale. Film tersebut mengangkat isu tentang konflik tanah adat di Papua.
Wakil Rektor 3 Universitas Mataram bidang Kemahasiswaan, Dr. Sujita mengatakan, pihak kampus meminta agar film tersebut untuk tidak ditonton.
Larangan pemutaran film ini disebut bukan karena adanya tekanan melainkan berdasarkan perintah.
"Tidak ada alasan dan tidak ada tekanan,” katanya.
Larangan pemutaran film ini kata Sujita untuk menjaga kondusifitas kampus. Ia mengaku pembubaran yang dilakukan tersebut hanya menjalankan perintah.
"Saya hanya menjalankan perintah," katanya.
Sujita mengatakan, untuk menjaga kondusifitas, film "Pesta Babi" untuk tidak ditonton. Demi persatuan dan kesatuan bangsa sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan dan film tersebut dinilai kurang baik untuk ditonton.
"Mohon di mengerti bahwa ini adalah untuk kepentingan bersama dan menurut pandangan kita untuk menjaga kondusifitas sebaiknya film jangan ditonton," ucapnya.
Dirinya menyarankan mahasiswa untuk menonton film lain yang sudah banyak ditayangkan saat ini seperti sepak bola. Ia menegaskan menolak pemutaran film “Pesta Babi” demi menjaga kondusifitas.
"Memang menolak demi kondusifitas," tegasnya.
Sementara itu, salah seorang mahasiswa Unram yang saat itu akan nobar pemutaran film “Pesta Babi” menilai bahwa pihak kampus tidak menginginkan agar persoalan di Papua diketahui oleh masyarakat luas.
"Mungkin pihak kampus tidak mau masalah Papua diketahui oleh semua rakyat," jelasnya.
Pasca pembubaran pemutaran film di kawasan kampus, para mahasiswa akan mencari tempat lain untuk menonton film dokumenter tersebut.
"Nanti kita cari tempat lagi untuk Nobar. Film ini bukan hanya untuk Papua tapi kita semua harus tahu karena kita semua bagian dari Bangsa Indonesia," tukasnya.
Berita Terkait
-
Norwegia Tersingkir dari Piala Dunia, Cak Imin Pindah Haluan Dukung Argentina
-
Sihir Nobar: Saat Orang Asing Menjadi Kawan Hanya Karena Satu Gol
-
Identik dengan Nobar, Piala Dunia 2026 Tak Nikmat Jika Ditonton Sendirian?
-
Bahlil Minta Lebih Banyak Lahan untuk Sawit demi Ambisi B80
-
Nobar Piala Dunia Jadi Momen Bonding Keluarga yang Tak Tergantikan
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Danantara melalui BRILink Agen Dorong Inklusi Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi Ke Pelosok Negeri
-
Kerja Ekstra, Gaji Dipotong: Nasib Ironis Kader Posyandu Cuma Digaji Rp150 Ribu
-
Jangan ke Pantai Dulu! BMKG Peringatkan Potensi Air Laut Pasang di Bali
-
Aturan Kapal Wisata Dinilai Masih Abu-Abu, Pengusaha Kapal Desak Pemerintah Benahi Regulasi
-
Melebihi Target, 4.000 Orang Registrasi Festival Yacht Gratis di Benoa