SuaraBali.id - Siswa salah satu pondok pesantren (Ponpes) di Aikmel, Lombok Timur (Lotim) diduga mengalami kekerasan fisik dan mendapatkan bullying dari teman-temannya. Ia mengalami hal ini lantaran dituduh mencuri di lingkungan Ponpes.
Dari foto yang diterima Suara.com, mata sebelah kiri santri tersebut nampak membengkak dan telinga terlihat memar.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lotim, Judan Putrabaya menceritakan kejadian bermula saat enam orang siswa SMA menjemput paksa korban dikamarnya pada malam Jumat, (17/2/2023) sekitar pukul 21.00.
Korban awalnya tidak menaruh curiga atas penjemputannya sehingga mau dibawa ke lantai dua. Sesampainya para pelaku mengintrogasi korban terkait uang yang hilang milik salah satu pelaku.
Saat itu korban berulang kali menolak dan tidak mengakui perbuatannya. Melihat hal itu, para pelaku mengancam jika tidak mengakui maka tidak akan di bawa ke lantai dasar menuju kamarnya.
Tapi jika mengakui maka tidak akan dipukul dan akan diantar ke lantai dasar. Sontak korban pun dengan terpaksa mengakuinya.
“Setelah terpaksa mengakui korban di pukuli oleh setidaknya enam orang secara membabi buta hingga korban mengalami luka memar di sekujur wajah dan telinga,” terang Judan saat dikonfirmasi suara.com, Senin (20/2/2023).
Keluarga korban pun tengah melaporkan kasus ini. LPA juga sudah berkoordinasi dengan dinas terkait melalui UPTD PPA Lotim untuk penanganan medis maupun non medis.
“Kami menyampaikan rasa keperihatianan dan penyesalan mendalam atas peristiwa ini. Sebab menurut ponpes kini sesungguhnya telah mulai menjadi alternatif para orang tua untuk wadah pembinan moral dan akhlaq”, keluhnya.
Judan menilai saat ini Ponpes banyak yang mengalami perilaku menyimpang. Terlebih ia melihat ponpes yang menjadi tempat kekerasan fisik ini dinilai cukup besar di Lotim.
Sehingga sulit dibayangkan jika ponpes ini kecolongan dengan perilaku tidak terpuji siswanya.
“Dimana fungsi pengawasan atau kontrol para mudir atau penjaga terhadap para santri yang menjadi tanggungjawab mereka," kata Judan bertanya.
Ia meminta pengasuh Ponpes jangan mengangap sepele dan apalagi abai dengan potensi - potensi berbagai kasus kekerasan di lingkungan Ponpes.
Sebab setiap ada kerumunan berpotensi terjadinya berbagai bentuk kekerasan.
“Fungsi kontrol yang maksimal harus dilakukan, jangan lagi ada pondok- pondok pesantren sampai kehilangan kepercayaan dari warga masyarakat," harapnya.
Berita Terkait
-
Keroyok Pemotor Gunakan Batu, Polisi Ringkus 3 Pak Ogah di Tubagus Angke Jakarta Barat
-
Merangkak Pulang dari Semak Belukar: Kisah Nenek Saudah Korban Perlawanan terhadap Mafia Tambang?
-
Menjaga Pesisir Sumbawa Melalui Ekowisata Mangrove Nanga Sira Desa Penyaring
-
Misteri 40 Menit di Kamar Mandi, Misri Puspita Bakal Bersaksi di Sidang Pembunuhan Brigadir Nurhadi
-
Sirkuit Mandalika Dibuka untuk Umum, Turis Bisa Rasakan Sensasi Jadi Pebalap
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen