SuaraBali.id - Sebelas pemain pecut dari Sasana Pecut Badeng menampilkan atraksi senjata pecut (cambuk). Satu per satu pemain pecut memperlihatkan kelihaiannya memainkan pecut.
Seperti membelah mentimun dengan pecut. Penampilan tersebut turut mengawali peringatan Puputan Badung ke-116 di Simpang MH Thamrin pada Selasa (20/9/2023).
Ini merupakan kali pertama atraksi pecut badeng ditampilkan pada peringatan Puputan Badung. Penglingsir Puri Pemecutan sekaligus ketua panitia kegiatan, Anak Agung Ngurah Putra Darmanuraga menyebut dirinya ingin membangkitkan kembali budaya seni pecut Bali.
“Saya anggap sebagai suatu langkah awal (untuk membangkitkan pecut). Kok sekian tahun Puri (Pemecutan) sudah ada, kok baru sekarang saya berniat membuat pasukan pecut. Saya anggap itu alam berbicara,” tuturnya.
Ia menuturkan bahwa pecut memiliki makna sebagai pengendali. Karena penting bagi pemecut untuk mengendalikan diri dan lawan yang dihadapi.
Dari keinginan itulah Darmanuraga membentuk Sasana Pecut Badeng. Sebuah sanggar pelatihan pecut bagi anak-anak SD hingga dewasa yang berdiri sejak 7 bulan lalu.
Nama Pecut Badeng yang berarti cambuk hitam lahir dari kata "Badung”. Melambangkan Kerajaan Badung tempat pecut dulu digunakan sebagai senjata.
Dari nama tersebut juga, warna kebesaran hitam selalu menjadi identitas bagi Sasana Pecut Badeng dan Puri Pemecutan.
Warna hitam tersebut merupakan lambang dari tanah hitam yang ada di sekitar area Pemecutan, yang kemudian dari kata 'badeng' menjadi cikal bakal nama Kerajaan Badung.
Baca Juga: Nyoman Wara, Pria Kelahiran Karangasem, Bali Kandidat Kuat Pimpinan KPK
Begitu juga saat tampil dalam atraksi tersebut, para pemecut tampil dengan kemeja, kamen, dan udeng hitam disertai saput berwarna tridatu (merah, putih, hitam) serta lengkap dengan pecut berwarna hitam.
Pelatih pecut profesional di Sasana Pecut Badeng, Alamsyah menjelaskan bahwa dirinya aktif dalam dunia cambuk profesional berterima kasih karena telah diajak bekerjasama dengan Puri Pemecutan untuk membentuk Sasana Pecut Badeng.
“Misi saya adalah untuk menghidupkan pecut seluruh Indonesia dan harus dimulai dari Bali. Karena menurut sejarah, pecut itu awalnya di Bali dari Patih Kebo Iwa barulah berkembang di Jawa,” ujar Alamsyah.
Dalam upaya tersebut, Alamsyah juga akan menggelar kejuaraan terbuka cambuk Indonesia pada Bulan Oktober nanti.
Aksi pecut yang ditampilkan dalam festival peringatan Puputan Badung tersebut mendapat sambutan yang antusias dari penonton. Sekaligus mengawali rangkaian festival tersebut. Dalam festival peringatan tersebut juga hadir Wali Kota Denpasar, IGN Jayanegara.
Kontributor : Putu Yonata Udawananda
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
5 Warga Tersangka Pembunuhan Pria Diduga Curi Ayam di Tabanan
-
Ayah Korban Pengeroyokan Usai Dituduh Curi Ayam Tinggalkan Tiga Anak
-
Peringatan Hari Mangrove Sedunia, 15 Ribu Bibit Pohon Disebar di Batu Lumbang Tahura Ngurah Rai
-
Guru SD di Buleleng Diduga Cabuli Murid, Polisi Lakukan Penyelidikan
-
Bukan Sekadar Diskriminasi, Event Lari Khusus Bule di Bali Ternyata Belum Kantongi Izin?