SuaraBali.id - Bencana yang terjadi pada musim kemarau mengancam masyarakat yang tinggal di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Memasuki musim kemarau ini, dituntut kewaspadaan kita bersama terhadap terjadinya bencana, apakah itu kekeringan, kebakaran dan kekurangan air bersih," kata Sekretaris Daerah (Sekda) NTB L. Gita Ariadi, Senin (1/8/2022).
Saat ini pemerintah provinsi melalui BPBD NTB dan Dinas Sosial NTB disebut sudah melakukan antisipasi untuk meminimalisir terjadinya bencana, salah satunya penyediaan dan penyaluran air bersih kepada wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan.
"Penyediaan air bersih dalam menghadapi kelangkaan air ini menjadi perhatian pemerintah provinsi, termasuk juga kabupaten dan kota," ujarnya.
Selain air bersih yang disalurkan melalui mobil-mobil tangki, pihaknya juga telah memperbanyak sumur bor, terutama di wilayah yang rawan bencana kekeringan," katanya.
Sedangkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Sahdan menyatakan kesiapan dalam mengantisipasi bencana kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
"Kami sudah rapat koordinasi bersama seluruh kabupaten dan kota termasuk BMKG dan sejumlah pihak yang terkait dalam mengantisipasi bencana kekeringan tahun ini," ucapnya.
Hingga saat ini, pihaknya belum menerima adanya laporan kekeringan dari 10 kabupaten dan kota yang ada di NTB.
"Sampai sekarang belum ada kami terima laporan ada daerah yang mengalami kekeringan," ujarnya.
Baca Juga: Masyarakat di NTB Diminta Mewaspadai Bencana di Puncak Musim Kemarau
Mantan Kepala Dinas PUPR NTB ini, menyatakan jika merujuk kasus-kasus kekeringan yang terjadi selama ini ada sembilan kabupaten dan kota yang menjadi daerah langganan bencana kekeringan, di antaranya Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima.
"Sembilan daerah ini memang setiap tahun jadi langganan bencana kekeringan, kecuali Kota Mataram yang tidak pernah," kata dia.
Dia menjelaskan bagi daerah yang sudah dinyatakan darurat kekeringan, kepala daerah bisa mengeluarkan biaya tak terduga (BTT) untuk penanganan dampak kekeringan di daerah masing-masing, termasuk menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan.
"Kami juga sudah menyiapkan dana BTT bila sewaktu-waktu bencana kekeringan terjadi. Cuman berapa anggarannya kita belum tahu persis. Namun yang jelas sudah ada disiapkan," katanya. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Harga Rp20 M tapi Cepat Rusak! Dugaan Korupsi Mesin Pengolah Sampah Pemkab Lombok Diusut Kejati
-
Gen Z Stres Memikirkan Biaya Hidup dan Bencana Jadi Beban Baru?
-
Dampak Kekeringan di Karawang Kian Parah, 47 Ribu Warga di 33 Desa Krisis Air
-
PDIP Ingatkan Kekeringan dan Karhutla Bukan Sekadar Bencana Tahunan
-
Warga Patungan Masker untuk Korban Karhutla, Enter Nusantara Sindir Pemerintah Abai Tangani Bencana
Terpopuler
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- 4 Sunscreen Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Tak Masuk Skuad Utama Persija, Kualitas Shayne Pattynama di Bawah Standar Shin Tae-yong
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Diskon Pemeriksaan Laboratorium Hingga MCU Prodia, Ini Manfaat dari BRI untuk Nasabah Prioritas
-
Kementerian Transmigrasi dan Komisi V DPR RI Serahkan 109 SHM Warga Transmigrasi Lombok Timur
-
BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Rp1 Triliun, Optimistis terhadap Prospek Jangka Panjang
-
3.764 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual dan Fisik di NTB dalam Enam Tahun
-
Tabanan Bali Diselimuti Kabut Putih Misterius, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG