SuaraBali.id - Lebaran menjadi harapan baru bagi pelaku pariwisata Bali untuk memperoleh omset besar. Hal ini karena diprediksi jumlah wisatawan yang akan datang ke Bali bisa meningkat.
Hal ini juga diyakini oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali. Pihaknya memprediksi okupansi atau tingkat hunian kamar hotel saat libur Lebaran 2022 di kawasan Nusa Dua dan Kuta, Kabupaten Badung, bisa mencapai 50 persen.
"Pada beberapa wilayah kawasan seperti Kuta dan Nusa Dua yang masih menjadi tujuan utama wisatawan domestik, saya kira okupansi menembus 40-50 persen," kata Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Jumat (16/4/2022).
Cok Ace itu melihat minat wisatawan Nusantara untuk berlibur ke Provinsi Bali masih cukup tinggi.
"Kalau saat ini memang terlihat penurunan, kedatangan yang pernah menyentuh angka 11 ribu -12 ribu per hari, sekarang menjadi 7 ribu - 8 ribu," katanya.
Ia juga optimis jumlah wisatawan bisa bisa tembus kunjungan hingga 20 ribu orang saat libur Lebaran pada awal Mei mendatang.
"Tentu (saat libur Lebaran) akan ada penambahan-penambahan wisatawan baru, saya kira nanti akan ada peningkatan yang signifikan," katanya.
Pada lebaran tahun sebelumnya, Cok Ace memprediksi kunjungan wisatawan domestik ke Bali masih didominasi dari DKI Jakarta.
Jika di kawasan Nusa Dua dan Kuta, Kabupaten Badung, okupansi hotel diperkirakan menyentuh angka 40-50 persen, berbeda halnya di kawasan wisata lainnya.
Baca Juga: Viral Emak-emak Main Judi Game Tembak Ikan, Warganet : Kirain Cupu Ternyata Suhu
Seperti untuk kawasan Ubud di Kabupaten Gianyar dan Candidasa di Kabupaten Karangasem, okupansi hotel diprediksi hingga 15 persen. Sedangkan total jumlah kamar hotel di Pulau Dewata sampai saat ini sebanyak 140 ribu kamar.
Namun demikian, meski jumlah kunjungan mulai meningkat Cok Ace mengatakan masih ada kendala jumlah penerbangan ke Pulau Bali.
"Oleh karena itu, kami berharap yang berlibur melalui darat juga akan bisa meningkatkan kunjungan ke Bali," ujarnya.
Untuk menarik minat wisatawan ke Bali, kata Cok Ace, masing-masing hotel juga aktif mempromosikan diri terkait keamanan dan kenyamanan yang ditawarkan, maupun berbagai fasilitas baru dan pemberian diskon.
"Persaingan sekarang itu di industri masing-masing. Sekarang sepenuhnya mekanisme pasar. Beda dengan sebelumnya, pemerintah masih banyak ikut terlibat. Masing-masing industri pariwisata juga sudah memiliki sertifikat CHSE," katanya. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Perkuat Nilai bagi Pemegang Saham, BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun
-
Ini Identitas Dua Bule Prancis Pemeran Video Syur Berdurasi 13 Menit yang Hebohkan Bali
-
Pakai Barcode Palsu, Sindikat BBM Subsidi di Denpasar Raup Omzet Rp75 Juta
-
Polda NTB Sita 1.734 Liter Pertalite Subsidi di Lombok Timur
-
Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN