SuaraBali.id - Surat Edaran (SE) MDA Provinsi Bali Nomor 009 Tahun 2021 tentang pembuatan dan pawai ogoh-ogoh Saat Nyepi Tahun Baru Saka 1944 diterbitkan. Menanggapi hal tersebut, Bendesa Madya MDA Kabupaten Gianyar Anak Agung Gde Alit Asmara saat dikonfirmasi mengatakan siap menjalankan kebijakan sesuai yang tercantum.
"Kami sudah teruskan ke seluruh Bendesa Adat di Gianyar," jelasnya, Kamis (30/12/2021).
Akan tetapi pihaknya mewanti-wanti bahwa prosesi harus berlangsung dengan protokol kesehatan.
"Desa Adat harus tetap memperhatikan situasi dan kondisi penyebaran Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Hal teknis didalam pelaksanaannya kami serahkan sepenuhnya kepada Bendesa Adat setempat," tegasnya.
Kedisiplinan itu juga harus ada saat proses pembuatan dimana harus taat penerapan prokes. Maka dari itu, ia menambahkan jika diperbolehkan atau tidaknya pembuatan ogoh-ogoh ini kini merupakan kewenangan Bendesa Adat.
Karena Bendesa Adat yang mengetahui secara pasti kondisi dan situasi didaerahnya.
“Kita hanya mengarahkan karena ini konteksnya merupakan tradisi dan wujud kreatifitas, jadi di Majelis sudah mempertimbangkan dan tetap diberi ruang namun dengan catatan-catatan yang harus tetap ditaati karena kita masih dalam masa pandemi Covid-19,” jelasnya.
Adapun catatan yang dimaksud dan tercantum dalam SE MDA Provinsi Bali tersebut diantaranya pembuatan atau pawai ogoh-ogoh harus dilaksanakan secara kelembagaan seperti Banjar Adat, Desa Adat, Paiketan Yowana serta seizin Satuan Tugas Penanggulangan Covid-19 dan Bendesa Adat.
Kemudian Sekaa dan panitia yang melaksanakan dan bertanggungjawab dalam kegiatan tersebut membuat atau mengajukan usulan kepada Bendesa Adat untuk mendapatkan izin tertulis.
Pembuatan otoh-ogoh menggunakan bahan ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan styrofoam atau plastik.
Pembautan dibatasi hanya satu ogoh-ogoh di tingkat Banjar Adat atau Desa Adat. Pengarakan ogoh-ogoh dibatasi hanya keliling wewidangan Banjar Adat. Peserta pawai ogoh-ogoh dibatasi hanya 50 orang dengan waktu maksimal sampai pukul 20.00 WITA.
Peserta pawai ogoh-ogoh disemprot dengan cairan pengganti desinfektan seperti Eco-enzyme. Kemudian peserta harus menerapkan prokes dengan ketat, sudah divaksin tahap I dan II, tidak menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19.
Berita Terkait
-
Viral Gerombolan Turis Israel Mencuri di Lombok, Bayar Uang Damai Rp48 Juta Lalu ke Bali
-
Cara Asyik Menikmati Momen Healing dengan Sauna hingga Kuliner Sehat di Ubud Bali
-
Tolak Main di Eredivisie, Striker Bali United Jort van der Sande Menyesal Berkarier di Indonesia?
-
Prabowo Ungkap Penyebab Antrean BBM di Bali, Bukan karena Stok Menipis
-
Mau Liburan Natal dan Akhir Tahun Makin Berkesan? Ini Pilihan Aktivitas Seru di Bali
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida
-
BRI Borong 4 Penghargaan di Top 20 Financial Institutions Award 2026
-
Penyelam Tewas saat Menembak Ikan, Sempat Berteriak Minta Tolong
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern