SuaraBali.id - Siang akhir Oktober 2021, Ratih (bukan nama sebenarnya) melihat adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar memainkan gawainya. Ia lalu duduk di samping adiknya untuk meminjam gawai tersebut.
Secara berkala, Ratih memang memeriksa isi gawai milik adiknya. Ia khawatir adiknya mengakses konten yang tak sesuai usianya. Betapa terkejutnya, gadis kelas 3 SMA di Denpasar, Bali ini ketika melihat percakapan di aplikasi pesan Whatsapp adik perempuannya itu.
Sebuah nomor tak dikenal berbalas pesan dengan sang adik. Awalnya obrolan biasa menanyakan nama dan alamat. Namun semakin lama menjurus permintaan yang tak pernah ia bayangkan.
Pemilik nomer itu mengaku bernama Pendi dan domisili di Pontianak. Ia menggunakan foto profil ilustrasi burung garuda.
Pendi awalnya meminta berkenalan. Kemudian menawarkan Rp100 ribu pulsa kepada sang adik. Namun syaratnya adiknya harus mengirim foto kepada Pendi.
Sang adik sempat mengirim foto selfie dirinya ketika di kamar. Namun Pendi mengatakan foto yang dikirim salah. Ia meminta foto gadis kecil itu untuk tak berbusana.
Beruntung, percakapan itu langsung ditemukan oleh sang kakak. Ratih marah dan sekaligus terkejut. Ia tak menyangka adiknya hampir saja menjadi korban kekerasan berbasis gender online (KBGO).
Ratih lantas memeriksa grup Whatsapp yang diikuti oleh adiknya. Total ada empat grup yang berisi ratusan anggota para gadis kecil yang memiliki hobi yang sama yakni bermain game online SAKURA School Simulator.
Adiknya bergabung ke grup itu melalui tautan yang didapatkannya dari YouTube. Saat itu, si adik sedang membuat konten tentang game yang dimainkannya.
Dari empat grup berisi ratusan peserta itu, Pendi masuk di dalamnya. Dari story whatsapp Pendi, ada percakapan yang ditangkap layar sejumlah anak berterimakasih karena dikirim pulsa. Ratih yakin anak-anak tersebut sudah mengirim foto sensitif sesuai yang diminta Pendi.
"Dia nawarin pulsa ke anak-anak. Tapi syaratnya harus foto bagian sensitif. Pelaku ini nge-chat adik saya duluan. Nanya nama dan lain-lain," katanya kepada SuaraBali.
Ratih tak pernah membayangkan adiknya hampir saja menjadi korban. Kasus semacam ini biasanya hanya ia baca di media sosial atau pemberitaan di media massa. Namun, ternyata kasus semacam ini bisa dialami keluarga dekatnya. Adik yang begitu ia sayangi.
"Saya bingung dan shock gitu, kejadian kaya gini hampir dialami adik," kata dia.
Ratih yang bingung mengaku tak tahu harus bagaimana. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus bertindak dan melaporkan kejadian ini. Jika lapor ke polisi, Ratih khawatir laporannya tak ditanggapi.
Ratih kemudian melapor ke orangtuanya dan bersama membuka dan mencari situs Komisi Perlindungan Anak. Ia menghubunginya dan diminta menghubungi P2TP2A.
Tag
Berita Terkait
-
Festival Literasi Denpasar #6 Libatkan 10.150 Peserta, Komitmen Bangun Generasi Cerdas dan Kreatif
-
The Invisible Villa Hadir di Ubud, Tawarkan Penginapan Transparan dengan Privasi Maksimal
-
Waspada Marak Penipuan Whatsapp Jelang Lebaran, Ini Cara Mengantisipasinya
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Menang Dramatis atas Arema FC, Pelatih Bali United Bongkar Resep Jitunya
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin