SuaraBali.id - Tak seperti makam biasanya yang terkesan angker dan menyeramkan, makam muslim Wikondo di Banjar Air Anakan Desa Banyubiru, Negara, Kabupaten Jembrana, Bali ini terlihat asri dan lebih mirip tempat wisata. Di lahan seluas 20 are ini tak hanya ada makam, tapi juga terdapat bangunan Bale Sari, Mushola hingga Gudang.
Makam ini dijaga oleh seorang juru kunci bernama Saifur Ali (61) yang setiap hari juga ikut merawat dan membersihkan.
Makam ini merupakan wakaf bagi para umat muslim yang memakamkan jenazah di area tersebut. Dari bilik setiap petak makam sudah bertuliskan area wakaf milik dari para yang mewakafkan.
"Pekerja di area makam ini berjumlah 2 orang dengan upah Rp65 ribu per-hari. Ini dibayar per bulan dengan sistem ditranfer melalui rekening," ujarnya.
Saifur Ali menjelaskan, Makam muslim Wikondo diresmikan pada tahun 2015 oleh Bupati Jembrana yang saat itu dijabat Putu Artha. Hal ini juga mendapatkan sepengetahuan dari pihak Kantor Urusan Agama atau KUA Negara yang diberi nama Makam Muslim Wikondo.
"Sejarah makam ini berawal dari para jamaah yang meninggal di lingkungan mushola yang ada di Denpasar. Maka sulit untuk dimakamkan. Bahkan guru-guru ngaji baik yang dari luar maupun yang ada sekitar air anakan dimakamkan sebagai tokoh-tokoh," ungkapnya.
Selain itu makam ini juga diwakafkan bagi para mualaf tanpa dikenakan biaya apapun termasuk gali kubur, karena semua sudah diakomodasikan oleh Yayasan Wikondo.
"Walau ornamen berbentuk seni Tionghoa namun ciri khas Islam yang ada. Setiap makam tidak boleh dikeramik hanya batu nisan saja yang beda. Cara mengubur pun sama tanpa ada yang menyimpang dari aqidah Islam. Ada juga hibah dari PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia)," tegasnya.
Saifur Ali juga menambahkan, pemilik makam ini, Haji Trisno Wikondo Raharjo kerap aktif di kegiatan berbagi antar sesama umat beragama. Ia juga selalu hadir bila ada kegiatan non muslim, bahkan menyumbang untuk kegiatan amal seperti membuat ogoh-ogoh bagi warga sekitarnya.
"Total jumlah yang dimakamkan berjumlah 11 makam, terdiri dari mualaf, China muslim, dan tokoh muslim. Makam teduh ini dengan rimbunan pohon tanpa ada kesan angker, bahkan justru malah bernuansa seperti tempat wisata,“ tutupnya.
Berita Terkait
-
Korps Kadet Dinilai Jadi Salin Rupa Menwa Era Orba, Berpotensi Lahirkan Siswa Arogan
-
Sorot Analisis Kapolri, Pengamat Minta Keamanan Ruang Digital Masuk Kebijakan Pertahanan Negara
-
Kemenkeu Telah Lunasi Utang Gagal Bayar Waskita Senilai Rp722 Miliar
-
Negara Miskin Jadi yang Terakhir Rasakan Manfaat Net Zero: Kenapa?
-
Pemimpin Arab Sampaikan Duka Cita Atas Tragedi KMP Virgo Transport 8
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Kesempatan Ekstra 27.000 GarudaMiles Hanya Untuk Nasabah BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas
-
Jalur Pendakian Torean dan Senaru Gunung Rinjani Tutup
-
DPRD NTB Minta Seluruh Pimpinan dan Pengajar Ponpes Tes Kejiwaan
-
Rekor Baru! 4 Bulan Tanpa Hujan, Wilayah Ini Jadi Paling Kering di Bali
-
Kakek 57 Tahun di Sumbawa Dicokok Polisi Usai Dilaporkan Cabuli Bocah 5 Tahun