SuaraBali.id - Pasien COVID-19 meninggal santre IGD di RSUP dr Sardjito. Mirisnya, pasien COVID-19 itu meninggal terkapar di kursi lobi IGD.
Pasien COVID-19 itu berinisial P, berusia 54 tahun. P warga Banyu Temumpang, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY.
Pasien COVID-19 itu meninggal saat antre untuk mendapatkan pelayanan di IGD RSUP dr Sardjito Jogja dilansir solopos.com, Selasa (13/7/2021).
Carik Bangunjiwo, Sukarman, membenarkan perihal meninggalnya warga Banyu Temumpang tersebut.
“Benar. Kejadian kemarin. Kemarin pagi, kami antarkan pasien dengan ambulans ke RSUP Dr Sardjito. Di sana yang bersangkutan sudah terdaftar dan tengah mengantre di kursi depan IGD untuk mendapatkan pelayanan. Ambulans pun pulang. Namun, tidak berselang lama. Siang harinya, kami dikabari keluarga, pasien tersebut meninggal dunia,” kata Sukarman, Rabu kemarin.
Mendengar kabar tersebut, Sukarman bersama dengan tim ambulans mendatangi RSUP Dr Sardjito untuk menjemput jenazah P.
Pihak rumah sakit kemudian mengurusi jenazah dan memasukkannya ke peti.
Kemudian tim ambulans membawa jenazah pasien untuk dimakamkan dengan protokol kesehatan.
“Kami sendiri baru bisa memakamkan malam setelah maghrib. Karena harus menunggu proses yang harus dilalui di rumah sakit. Kami makamkan dengan protokol kesehatan,” jelas Sukarman.
Baca Juga: Terisi 80 Persen hingga Hari Ini, RSD Wisma Atlet Disebut Masih Melebihi Kapasitas
Menurut Sukarman, P meninggal karena belum tertangani oleh pihak rumah sakit. Meski telah masuk dalam daftar pasien yang akan ditangani.
Sementara P sendiri memiliki riwayat sakit napas sebelum dinyatakan positif dan meninggal dunia saat mengantre di RSUP Dr Sardjito.
“Dia punya riwayat komorbid. Sesak napas,” tandasnya.
Peristiwa meninggalnya pasien Covid-19 asal Bangunjiwo saat antre di rumah sakit baru kali pertama terjadi untuk warganya.
Sedangkan, beberapa hari sebelumnya, di Bangunjiwo juga ditemukan ada pasien Covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri. Pasien tersebut punya komorbid dan riwayat cuci darah meninggal di rumah.
“Jadi dia biasa cuci darah. Sambil menunggu jadwal cuci darah, pasien tersebut meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri. Kami evakuasi dan kami lakukan pemulasaran dan pemakaman dengan protokol kesehatan yang ketat,” ucap Sukarman.
Berita Terkait
-
Kasus Komentar Nirempati ke Pasien BPJS, RSUP Sardjito Hentikan Stase PPDS dr. Elda Putri Rahardini
-
IDI Desak Audit RS dan BPJS Usai Tragedi Yusrizal: Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Diefisiensi
-
Pasien Menunggu 8 Jam di IGD Jadi Alarm Perbaikan Layanan Rumah Sakit
-
Kemenkes soal Komentar Nakes ke Mendiang Yusrizal: Empati di Medsos Bagian dari Profesionalisme
-
Viral Komentar Tak Berempati Nakes ke Pasien BPJS, RSUP Dr. Sardjito Buka Suara
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo
-
Perkuat Nilai bagi Pemegang Saham, BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun