Pan Am melaporkan, sekitar tujuh puluh penumpang adalah wisatawan yang hendak berlibur di Bali.
Pilot yang memimpin penerbangan ini Kapten Donald Zinke yang berusia 52 tahun. Mengantongi jam terbang total 18.247 jam termasuk 7.192 jam di pesawat Boeing 707/720. Dia memegang rating pesawat DC-4 dan rating pesawat Boeing 707.
Co-pilotnya adalah Perwira Pertama John Schroeder. Dia memegang peringkat Boeing 707 yang valid dan memiliki total jam terbang 6.312 jam termasuk 4.776 jam di pesawat Boeing 707/720.
Pilot lainnya adalah Perwira Ketiga Melvin Pratt, memegang lisensi pilot komersial yang valid dan peringkat instrumen saat itu. Pada saat kecelakaan itu dia telah terbang total 4.255 jam termasuk 3.964 jam di pesawat Boeing 707/720.
Anggota kru kokpit lainnya adalah Insinyur Penerbangan Timothy Crowley dan Insinyur Penerbangan Edward Keating.
Beberapa saksi mata menyatakan bahwa pesawat itu terbakar sebelum menghantam Gunung Mesehe.
Yang lain menyatakan bahwa Kapten Zinke mencoba mendarat dari barat laut, di mana pegunungan itu berada, bukan melalui rute yang biasa (dari timur).
Sisi timur tidak memiliki medan yang curam. Mereka juga menyatakan bahwa pesawat itu meledak tak lama setelah menghantam gunung.
Ada juga laporan bahwa pesawat berputar-putar selama kecelakaan itu.
Baca Juga: Hari Ini Mengenang Tragedi Trisakti Penembakan 12 Mei 1998
Pan American Airways kemudian menyatakan bahwa mereka menolak berkomentar tentang penyebab kecelakaan itu. Mereka menyatakan akan menunggu hasil penyelidikan.
Karena pesawat itu terdaftar di Amerika Serikat, NTSB dipanggil untuk menyelidiki kecelakaan itu. Perwakilan korban dari negara asalnya juga dipanggil oleh Pemerintah Indonesia. FBI juga diminta untuk mengidentifikasi para korban.
FBI mendirikan crisis centre di sebuah hanggar di Denpasar. Identifikasi terhambat oleh keputusan Pemerintah Indonesia untuk menghentikan identifikasi para korban dan penyelidikan kecelakaan ini.
Black box penerbangan ditemukan pada 16 Juli dan perekam suara kokpit ditemukan pada 18 Juli 1974. CVR ditemukan dalam kondisi baik, sedangkan FDR mengalami beberapa kerusakan pada bagian luarnya karena kecelakaan itu.
Pemeriksaan rongsokan Flight 812 menyimpulkan bahwa pesawat tidak pecah dalam penerbangan, karena puing-puing pesawat terkonsentrasi di area tertentu, bukan tersebar.
NTSB tidak menemukan kerusakan mesin, dan menambahkan bahwa mereka tidak menemukan bukti yang menunjukkan bahwa pesawat itu tidak layak terbang.
Berita Terkait
-
Tragedi Serangan 9/11 WTC Jadi Sajian Teori Konspirasi di Kalangan Gen Z, Bagaimana Bisa?
-
Fakta Pesawat Germanwings 9525 yang Sengaja Dijatuhkan Kopilot
-
Ulasan Mangir: Intrik Kekuasaan dan Tragedi di Tanah Jawa
-
Tragedi Pejompongan: Saat Demo Berubah Menjadi Petaka bagi Warga Tak Bersalah
-
Ketika Keadilan Tak Lagi Terasa Adil dalam Novel Tragedi Pedang Keadilan
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Hiu Paus 8 Meter Terdampar di Pantai Pengeragoan, Mati dan Dikubur
-
Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali
-
Pura Desa Adat di Buleleng Terbakar, Beringin Berusia Ratusan Tahun Ikut Hangus
-
BRImo Taiwan Sabet Penghargaan Inovasi 2026, Permudah Transaksi PMI di Luar Negeri
-
Sungai-sungai di Mataram Berubah Jadi 'Lautan Sampah' Saat Kemarau