Scroll untuk membaca artikel
Pebriansyah Ariefana
Senin, 22 Februari 2021 | 06:25 WIB
Tanggapan netizen soal Selasa hari pakai endek di Bali. (Instagram/@denpasar.viral)

Padahal, pernyataan Gubernur Koster tidak se-formal dugaan warganet, karena orang nomer satu di Pemprov Bali itu hanya menggarisbawahi bahwa endek itu dibeli di IKM lokal Bali. "Yang penting endeknya baru, tidak boleh yang sudah ada. Terserah pesannya mau di mana, mau yang kelas harga berapa, sesuai kemampuan masing-masing," ucap Gubernur Koster, Kamis (11/2).

Agaknya, niat baik Gubernur Bali untuk pelestarian budaya dan mendorong kebangkitan UMKM itu tidak hanya berhenti pada SE Endek, namun Gubernur Bali, Wayan Koster, juga secara resmi menandatangani kerja sama dengan Christian Dior Couture, S.A, dalam mempromosikan ekspresi budaya tradisional Indonesia untuk tenun endek Bali, secara virtual dari Denpasar, Bali, dan Paris, Perancis pada Kamis (11/2) Pukul 21.30 WITA atau 14.30 waktu bagian Paris.

"Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada Christian Dior yang telah memilih kain tenun endek Bali sebagai bahan baku koleksinya. Ini merupakan kerja sama yang bersejarah di dalam melestarikan warisan budaya leluhur Bali dan juga sebagai wujud keberpihakan kami kepada industri kecil dan menengah, khususnya para penenun Kain Endek Bali di masa pandemi Covid-19," ujar Koster dalam keterangan persnya.

Dalam kerja sama itu, perusahaan yang didirikan di bawah hukum Negara Perancis, Christian Dior Couture, S.A bisa memanfaatkan kain tenun endek Bali sebagai koleksi busana musim semi dan musim panas tahun 2021. Gubernur Koster dan Christian Dior juga sama-sama sepakat untuk mempromosikan ekspresi budaya tradisional Indonesia, khususnya pemanfaatan tenun endek Bali dalam produk Dior.

Baca Juga: Nyoman Ardana Putra, Mahasiswa Bali Tewas Tabrak Tiang Listrik

Sebagai bentuk ungkapan pengakuan terhadap nilai dan pengakuan terhadap hak pemilik tenun endek Bali, Christian Dior setuju untuk memberikan pemberdayaan kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terpilih di Bali yang memproduksi tenun endek, dan mencantumkan label pengakuan pada setiap produk Dior yang menggunakan tenun endek Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Marie Champey juga mengundang Gubernur Bali Wayan Koster beserta jajarannya untuk berkunjung ke pabrik Christian Dior di Perancis, serta melihat langsung bagaimana produksi busana tersebut dilakukan. "Kami ingin kerja sama ini terus berlanjut, serta kami juga berharap bisa memperkenalkan budaya-budaya unik lainnya tidak hanya dari Bali, namun dari seluruh Indonesia," ujarnya.

Agaknya, perusahaan Christian Dior di Perancis tidak salah memilih endek, karena bahan endek itu terbuat dari tenun ikat asli Bali, lalu cara pembuatannya juga masih menggunakan alat tenun bukan mesin, begitu juga motif yang dihasilkan adalah hasil dari tenunan (bukan lukisan).

Kain endek di Bali terdiri dari beragam jenis motif endek, di antaranya motif encak saji yang biasa dipilih untuk upacara keagamaan untuk umat Hindu, lalu ada motif songket, motif rangrang, endek jumputan, dan masih banyak lainnya. Karenanya, penggemar kain endek juga berasal dari berbagai kalangan, salah satunya generasi muda.

"Kita sebagai generasi muda Bali harus menjaga dan melestarikan warisan budaya yang kita miliki. Sangat penting bagi kita untuk mencintai warisan ini. Karena kain endek adalah milik kita, kita yang memakainya, dan kita yang bangga dengan warisan budaya yang kita miliki ini," ucap Duta Endek Bali Tahun 2019 Lady Athalia, Kamis (11/8).

Baca Juga: Bule Rusia Diusir dari Bali Habis Bebas Penjara dari Lapas Bangli

Pada masa pandemi COVID-19, endek Bali juga memiliki daya tarik tersendiri, misalnya sebagai bahan utama pembuatan APD (masker). Banyak yang berkreasi menggunakan endek sebagai bahan pendukung dalam pembuatan masker kain. Bukan hanya masker, namun juga aksesories lainnya, seperti scrunchie (ikat rambut), juga bandana.

Load More