- Simfoni PPA mencatat 3.764 anak menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Barat sepanjang periode 2020 hingga 2025.
- Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri mendorong perluasan edukasi pencegahan kekerasan dan perkawinan anak hingga tingkat SMP.
- BKKBN NTB melaporkan angka perkawinan anak di daerah tersebut berhasil mengalami penurunan dari 18 persen menjadi 14 persen.
SuaraBali.id - Sebanyak 3.764 anak menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama periode 2020–2025.
Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat 654 anak menjadi korban dari 637 kasus kekerasan sepanjang 2025.
Ancaman kekerasan terhadap perempuan dan anak masih berlanjut pada 2026. Dinas Sosial dan instansi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Provinsi NTB mencatat 262 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama Januari hingga Mei 2026. Kekerasan seksual disebut mendominasi laporan tersebut.
Besarnya angka korban itu menjadi perhatian Pemerintah Provinsi NTB. Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, mendorong perluasan edukasi pencegahan kekerasan fisik dan seksual serta perkawinan usia anak hingga tingkat sekolah menengah pertama (SMP).
Baca Juga:El Nino Menggila hingga 2027, Daerah Mana saja di NTB Bakal Segera Disiram Hujan?
Upaya tersebut dinilai penting agar anak lebih dini mengenali berbagai bentuk kekerasan, memahami cara melindungi diri, dan mengetahui tempat mencari pertolongan.
Indah menyampaikan hal itu saat menghadiri sosialisasi pencegahan kekerasan fisik dan seksual serta pendewasaan usia perkawinan yang diselenggarakan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) NTB di SMK Negeri 3 Sumbawa, Kamis.
Menurut dia, sekolah harus menjadi lingkungan yang aman bagi seluruh peserta didik sekaligus tempat membangun kepercayaan diri dan membekali generasi muda dengan pengetahuan untuk menghadapi ancaman.
"Sekolah harus menjadi ruang aman bagi seluruh siswa, tanpa diskriminasi, sekaligus tempat membangun kepercayaan diri dan membekali generasi muda agar mampu melindungi diri dari berbagai ancaman," kata Indah.
Edukasi Pencegahan Perlu Diperluas
Baca Juga:Modal Rp16 Miliar Amblas? Polda NTB Usut Dugaan Korupsi BUMD Lombok Timur
Indah, yang juga menjabat Ketua Umum BKOW NTB, menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dan tenaga pendidik dalam mencegah kekerasan terhadap anak.
Menurut dia, anak perlu dibekali pemahaman yang memadai agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sumbawa, Sudarti Mohamad Ansori, mengatakan kekerasan dapat terjadi dalam berbagai bentuk.
Di antaranya sentuhan yang tidak pantas, pemaksaan, hingga penyebaran informasi pribadi tanpa persetujuan.
"Pelajar perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali kekerasan, melindungi diri, dan berani mencari pertolongan ketika menghadapi tindakan yang mengancam keselamatan mereka," kata Sudarti.
Selain pencegahan kekerasan, sosialisasi tersebut membahas pendewasaan usia perkawinan. Edukasi ini diperlukan agar pelajar memahami pentingnya kesiapan fisik, psikologis, dan sosial sebelum membangun rumah tangga.