suara hijau

Elang Nias dan Burung Hantu Siau Dilaporkan Punah di Indonesia, Benarkah?

Burung elang endemik di Pulau Nias atau nisaetus nanus stresemanni itu dilaporkan punah dan terakhir terlihat di tahun 2006

Muhammad Yunus
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:19 WIB
Elang Nias dan Burung Hantu Siau Dilaporkan Punah di Indonesia, Benarkah?
Zaini Rakhman, peneliti burung sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN), Jumat (21/8) [SuaraBali.id/Dafi]
Baca 10 detik
  • Peneliti luar negeri melaporkan burung elang endemik Pulau Nias dan burung hantu Pulau Siau punah di alam kepada IUCN.
  • Ketua Raptor Indonesia Zaini Rakhman menyatakan akan melakukan asesmen dan penelitian langsung untuk memastikan kebenaran laporan tersebut.
  • Punahnya burung pemangsa ini berpotensi merusak rantai makanan serta keseimbangan ekosistem akibat hilangnya predator puncak.

Ia menyatakan, akan melakukan penelitian ke Pulau Nias terkait adanya laporan tersebut dan juga ke Pulau Siau untuk memastikan apakah benar telah punah di alam.

"Kalau kami perlu melakukan penelitian ke sana untuk memastikan bahwa spesies itu masih ada atau tidak di alam. Kami juga akan studi komparatif untuk melihat kira-kira seperti apa yang mungkin ada pemeliharaan itu mungkin jadi bisa jadi indukan untuk penangkaran," ujarnya.

"Yang paling dekat kami lakukan mungkin sebelum ke Nias kami akan coba lihat dulu yang di Pulau Siau itu. Burung Hantu Siau itu juga dikatakan punah," ujarnya.

Burung hantu di Pulau Siau itu dilaporkan punah di awal tahun 2026. Dan memang burung hantu statusnya sangat kritis dan misterius.

Baca Juga:Tujuh Ribu Burung Kicau dari NTB Diselundupkan ke Bali

Spesimen pertamanya dikoleksi sekitar 150 tahun lalu dan populasinya tercatat hanya satu spesiesmen.

" Hanya ada di sana. Kalau tidak salah (dilaporkan punah di alam) awal tahun 2026. (Populasinya) justru lebih ekstrem lagi yang Siau itu. Jadi hanya ada satu spesimen sejak perjumpaan, jadi tidak ada perjumpaan lagi, tidak ada record lagi setelah 150 tahun. (Kenapa diumumkan 2026). Karena sudah ada beberapa peneliti untuk melihat ke sana dan tidak menjumpai," katanya.

"Artinya saya belum tahu, tapi yang jelas itu tidak ada report setelah 150 tahun. Tidak ada catatan lagi setelah diambil spesimen, oh ini spesimennya baru, jenis baru dan sebagainya. Setelah itu tidak ada catatan lagi sampai 150 tahun, kami belum tahu misalnya dinyatakan punahnya itu, baru terakhir-terakhir ini ketika ada orang yang melakukan penelitian di sana," jelasnya.

Ia menerangkan, terkait burung dinyatakan punah di alam oleh peneliti tentu dibuktikan dengan melakukan penelitian dan sebagainya. Nantinya, pihaknya akan melakukan cross check kembali.

"Jadi kaidah-kaidah untuk dunia peneliti itu ada. Misalnya, kami melakukan penelitian kemudian membuat sebuah publikasi. Dari publikasi itu baru di kami akan dicrosscheck seperti apa, dichallenge. Kamu penelitiannya benar apa tidak," ujarnya.

Baca Juga:Awalnya Sedang Bertengger, Mendadak Ratusan Burung Pipit di Area Bandara Ngurah Rai Mati

"Kalau jangka waktu (penelitian) secara spesifik itu tidak ada tapi lebih cenderung ke metode. Jadi nanti penelitian yang ini, cover areanya berapa persen sih dari luas area," jelasnya.

Ia menyampaikan, punahnya burung elang maupun burung hantu di alam, tentu kedepannya mempengaruhi rantai makanan dan tidak ada keseimbangan ekosistem.

"Contohnya banyak terjadi di Pulau Jawa. Burung hantu banyak ditangkap kemudian terjadi populasi tikus meningkat akhirnya ke sawah. Sama juga elang, kalau elang itu di siang hari, burung hantu siang di malam hari (mencari makan)," ujarnya.

"Mereka disebut raptor, karena dia top predator, puncak piramida ekosistem di situ. Jadi dia yang akan mengatur keseimbangan mangsanya di situ. Kenapa semua jenis elang dilindungi pemerintah, karena dia punya fungsi peran penting," ujarnya.

Selain itu, ada beberapa faktor penyebab burung elang maupun burung hantu punah di alam. Pertama, kerusakan habitat utamanya di hutan, seperti ada fakto degradasi, fragmentasi dan deforestasi. Kedua, pemburuan terutama di Asia Tenggara cukup banyak perburuan.

Kemudian ketiga, potensi pakannya tentang pestisida tetapi ini belum banyak melakukan riset.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini