- Peneliti luar negeri melaporkan burung elang endemik Pulau Nias dan burung hantu Pulau Siau punah di alam kepada IUCN.
- Ketua Raptor Indonesia Zaini Rakhman menyatakan akan melakukan asesmen dan penelitian langsung untuk memastikan kebenaran laporan tersebut.
- Punahnya burung pemangsa ini berpotensi merusak rantai makanan serta keseimbangan ekosistem akibat hilangnya predator puncak.
SuaraBali.id - Burung elang yang berada di Pulau Nias, Sumatera Utara, dilaporkan oleh sejumlah peneliti diperkirakan telah punah di alam.
Burung elang endemik di Pulau Nias atau nisaetus nanus stresemanni itu dilaporkan punah dan terakhir terlihat di tahun 2006.
Selain burung elang di Pulau Nias yang dilaporkan punah di alam, ada juga burung hantu celepuk siau atau otus siaoensis merupakan burung hantu yang berada di Pulau Siau, Sulawesi Utara.
Zaini Rakhman selaku peneliti burung sekaligus Ketua Raptor Indonesia (RAIN) mengatakan, laporan itu disampaikan oleh para peneliti burung di luar negeri ke international union for Conservation of Nature (IUCN).
Baca Juga:Tujuh Ribu Burung Kicau dari NTB Diselundupkan ke Bali
"Itu laporan sebagian peneliti dari luar negeri yang melaporkan ke IUCN. Kemudian IUCN konfirmasi kepada kami untuk review, sebelum ditetapkan punah secara resmi," kata Zaini di sela acara Konsultasi Publik dan Side Event SRAK Elang Jawa 2026-2036, wilayah Jawa Timur dan Bali yang digelar di Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (21/8).
Ia menerangkan, terkait laporan itu pihaknya mengaku di bulan depan akan melakukan asesmen seluruh elang yang ada di Indonesia.
"Kami mungkin bulan depan akan melakukan asesmen seluruh elang-elang yang ada. Kami sebutnya raptor asesmen untuk seluruh elang yang ada di Indonesia. Karena, ada informasi dari para peneliti di luar juga dari IUCN menyebutkan bahwa itu sudah punah di alam," ujarnya.
"Celepuk siau, yang di Pulau Siau itu sudah punah di alam. Kami akan coba sampaikan, dari teman-teman penggiat raptor di Indonesia itu belum melakukan asesmen itu. Rencana kami akan coba itu lakukan asesmen," lanjutnya.
Zaini yang juga anggota IUCN untuk raptor specialist group akan melihat dan mengkaji apakah laporan tersebut benar.
Baca Juga:Awalnya Sedang Bertengger, Mendadak Ratusan Burung Pipit di Area Bandara Ngurah Rai Mati
"Kami akan coba untuk melihat lagi karena ketika dikatakan punah itu harus ada bukti yang otentik, kajian ilmiah dan sebagainya, Itu yang penting. Karena, tidak ada penelitian spesifik mencari si elang itu," ujarnya.
Karena menurutnya, bila memang punah di alam tapi tidak menutup kemungkinan ada masyarakat yang memelihara kedua burung tersebut yang nantinya bisa dijadikan indukan untuk dikembangbiakkan.
"Kami perlu melakukan kajian lebih khusus lagi. Kan saya sampaikan punah di alam tapi mungkin ada masyarakat yang memelihara itu bisa dijadikan indukan untuk breeding dan kemudian dilepasliarkan," jelasnya.
Ia menerangkan, memang terakhir populasi Elang Nias terdeteksi ada empat individu itu terlihat sekitar tahun 2006 dan setelah itu tidak terlihat lagi.
"Itu ada empat individu yang terdeteksi di Pulau Nias. Kemudian setelah itu tidak ada kajian lebih lanjut lagi. Informasinya teman-teman yang melakukan penelitian di sana atau pernah ke sana mungkin tidak spesifik ke individu itu, tapi secara langsung tidak menjumpai. Bisa jadi (punah) tapi bisa jadi tidak. Nanti diperhatikan lebih detail lagi. Itu tahun 2006 terakhir terlihat," ungkapnya.
Ia menerangkan, burung Elang di Pulau Nias adalah endemik dan hampir mirip dengan Elang Jawa. Tapi yang membedakan tubuh burung Elang Nias lebih besar.
"Hampir mirip dengan Elang Jawa untuk anakannya secara morfologi dan sebagainya. Cuman yang membedakan itu tubuhnya lebih besar. Itu endemik hanya ada di Pulau Nias. Biasanya (ada) di kawasan hutan di Pulau Nias, kami coba usulkan untuk menjadi semacam kawasan perlindungan," terangnya.
Ia menyatakan, akan melakukan penelitian ke Pulau Nias terkait adanya laporan tersebut dan juga ke Pulau Siau untuk memastikan apakah benar telah punah di alam.
"Kalau kami perlu melakukan penelitian ke sana untuk memastikan bahwa spesies itu masih ada atau tidak di alam. Kami juga akan studi komparatif untuk melihat kira-kira seperti apa yang mungkin ada pemeliharaan itu mungkin jadi bisa jadi indukan untuk penangkaran," ujarnya.
"Yang paling dekat kami lakukan mungkin sebelum ke Nias kami akan coba lihat dulu yang di Pulau Siau itu. Burung Hantu Siau itu juga dikatakan punah," ujarnya.
Burung hantu di Pulau Siau itu dilaporkan punah di awal tahun 2026. Dan memang burung hantu statusnya sangat kritis dan misterius.
Spesimen pertamanya dikoleksi sekitar 150 tahun lalu dan populasinya tercatat hanya satu spesiesmen.
" Hanya ada di sana. Kalau tidak salah (dilaporkan punah di alam) awal tahun 2026. (Populasinya) justru lebih ekstrem lagi yang Siau itu. Jadi hanya ada satu spesimen sejak perjumpaan, jadi tidak ada perjumpaan lagi, tidak ada record lagi setelah 150 tahun. (Kenapa diumumkan 2026). Karena sudah ada beberapa peneliti untuk melihat ke sana dan tidak menjumpai," katanya.
"Artinya saya belum tahu, tapi yang jelas itu tidak ada report setelah 150 tahun. Tidak ada catatan lagi setelah diambil spesimen, oh ini spesimennya baru, jenis baru dan sebagainya. Setelah itu tidak ada catatan lagi sampai 150 tahun, kami belum tahu misalnya dinyatakan punahnya itu, baru terakhir-terakhir ini ketika ada orang yang melakukan penelitian di sana," jelasnya.
Ia menerangkan, terkait burung dinyatakan punah di alam oleh peneliti tentu dibuktikan dengan melakukan penelitian dan sebagainya. Nantinya, pihaknya akan melakukan cross check kembali.
"Jadi kaidah-kaidah untuk dunia peneliti itu ada. Misalnya, kami melakukan penelitian kemudian membuat sebuah publikasi. Dari publikasi itu baru di kami akan dicrosscheck seperti apa, dichallenge. Kamu penelitiannya benar apa tidak," ujarnya.
"Kalau jangka waktu (penelitian) secara spesifik itu tidak ada tapi lebih cenderung ke metode. Jadi nanti penelitian yang ini, cover areanya berapa persen sih dari luas area," jelasnya.
Ia menyampaikan, punahnya burung elang maupun burung hantu di alam, tentu kedepannya mempengaruhi rantai makanan dan tidak ada keseimbangan ekosistem.
"Contohnya banyak terjadi di Pulau Jawa. Burung hantu banyak ditangkap kemudian terjadi populasi tikus meningkat akhirnya ke sawah. Sama juga elang, kalau elang itu di siang hari, burung hantu siang di malam hari (mencari makan)," ujarnya.
"Mereka disebut raptor, karena dia top predator, puncak piramida ekosistem di situ. Jadi dia yang akan mengatur keseimbangan mangsanya di situ. Kenapa semua jenis elang dilindungi pemerintah, karena dia punya fungsi peran penting," ujarnya.
Selain itu, ada beberapa faktor penyebab burung elang maupun burung hantu punah di alam. Pertama, kerusakan habitat utamanya di hutan, seperti ada fakto degradasi, fragmentasi dan deforestasi. Kedua, pemburuan terutama di Asia Tenggara cukup banyak perburuan.
Kemudian ketiga, potensi pakannya tentang pestisida tetapi ini belum banyak melakukan riset.
Penggunaan kimia secara tidak langsung ke mangsanya atau unggas itu mengurangi kegagalan berbiak penipisan cangkang telur.
"Dan perubahan iklim juga berpengaruh. Tapi mungkin tidak terlalu signifikan untuk jenis-jenis elang endemik. Mungkin ke perubahan, tapi yang signifikan itu kepada elang-elang yang migrasi. Contohnya ketika musim dingin mereka kan harus menghindari tapi di sana tuh masih panas sehingga mereka stay di sana," ujarnya.
Kontributor : M Dafi