- Gubernur Bali Wayan Koster merespons acara lari WNA di Bali pada Selasa (28/7).
- Koster menyatakan laporan yang ia terima membuktikan tidak ada indikasi diskriminasi dalam acara tersebut.
- Ia menilai acara lari pagi di Bali tersebut tidak meresahkan dan komunitas eksklusif WNA telah tiada.
SuaraBali.id - Gubernur Bali Wayan Koster merespon soal acara lari,"Bali Silent Disco" yang diselenggarakan warga negara asing (WNA) yang ditengarai melanggar aturan dan sarat akan diskriminasi terhadap warga negara Indonesia (WNI).
Gubernur Koster mengatakan, bahwa dirinya mengaku mendapat laporan bahwa peristiwa itu tidak seperti yang diberitakan dan tidak ada indikasi diskriminasi.
"Yang Silent Disco. Saya dapat laporan itu ternyata tidak seperti yang diberitakan, orang Indonesia-nya ada. Jadi tidak benar itu (diskriminasi)," kata Koster, saat usai menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Forkompinda Bali, di Gedung Kertha Sabha di Kota Denpasar, Bali, Selasa (28/7).
Ia menilai, bahwa soal penyelenggaraan event lari tidak ada yang perlu dirisaukan sepanjang itu tidak menggangu aktivitas masyarakat.
Baca Juga:Bukan Sekadar Diskriminasi, Event Lari Khusus Bule di Bali Ternyata Belum Kantongi Izin?
"Kan lari biasa saja, boleh. Tidak ada hal yang perlu dirisaukan sepanjang tidak menggangu. Ini kan dilakukan pagi hari, kan tidak ada masalah. Biasa saja, kita juga sering lari kan," katanya.
Ia juga menyebutkan, bahwa komunitas eksklusif untuk WNA di Pulau Bali sudah tidak ada lagi sepanjang informasi yang dia dapatkan.
"Kalau komunitas eksklusif sih, menurut saya di Bali ini dulu pernah ada komunitas tempat tinggal, ternyata itu sudah tidak ada lagi dan sekarang juga tidak ada," ujarnya.
Sebelumnya, viral di media sosial sebuah event lari yang diduga diskriminasi terhadap warga negara Indonesia (WNI). Event yang diikuti oleh sejumlah warga negara asing (WNA) itu, digelar komunitas di kawasan Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali.
Dugaan diskriminasi mencuat, setelah beredar tangkapan layar percakapan yang menunjukkan calon peserta diseleksi berdasarkan kewarganegaraan. Dalam tangkapan layar seseorang yang mengaku warga Indonesia menerima penolakan dengan alasan tidak dapat diberikan akses ke komunitas tersebut.
Sementara, dalam salah satu tangkapan layar lainnya yang beredar di Instagram, seseorang yang mengaku warga Jerman pengajuannya malah diterima.
Baca Juga:Kronologi Penembakan Brutal di The Shady Pig Canggu: Satu Peluru Tembus Dua Korban
Postingan tersebut memicu protes dan netizen mempertanyakan dugaan pembatasan peserta berdasarkan kewarganegaraan tersebut.
Selain itu, netizen juga menyoroti aspek perizinan acara. Karena kegiatan itu, disebut menggunakan jalan dan ruang publik.
Kontributor : M Dafi