- Nama Bali berasal dari kata Sanskerta 'Wali' (persembahan) dan ‘Walidwipa’ di Prasasti Blanjong.
- Bali punya akar kuat tradisi Hindu-Bali, dipengaruhi Majapahit, dan legenda pisah dari Jawa.
- Legenda: Sidhi Mantra pisahkan Bali dari Jawa, terkait perilaku putranya, Manik Angkeran.
SuaraBali.id - Bali, sudah menjadi nama pulau yang mendunia dan dikenal semua orang.
Budayanya yang begitu eksotis hingga keramahan warganya membuat banyak orang jatuh cinta dengan pulau ini.
Dari berbagai macam destinasi wisata yang kini ditawarkan, hingga tradisi budaya yang tidak ada di daerah lain ini, bagaimanakah sejarah dari pulau tersebut?
Menurut budayawan, penamaan Bali erat kaitannya dengan kata ‘Wali’ yang berarti ‘persembahan’ atau ‘kurban suci’ dalam Bahasa Sanskerta.
Baca Juga:Ancaman Dampak Gempa Megathrust dari Selatan Bali ke Buleleng, Guncangan Kuat Sampai Likuifaksi
Dalam tradisi Hindu, ‘wali’ dimaknai sebagai bentuk bakti manusia kepada Sang Pencipta.
Seiring perjalanan waktu, sebutan ‘wali’ berubah pelafalannya menjadi ‘Bali’.
Makna tersebut selaras dengan kehidupan Masyarakat Bali yang hingga kini lekat dengan upacara dan persembahan (banten).
Hampir setiap hari, aroma dupa hingga persembahan bunga dapat dijumpai di Pura, rumah, hingga pinggir jalan.
Asal – usul nama Bali juga tercatat dalam sejumlah prasasti kuno, salah satunya Prasasti Blanjong di Sanur yang berangka tahun 914 Masehi.
Baca Juga:Desa Penglipuran Bangli: Menjelajah Desa Adat Bali Terbersih di Dunia
Prasasti ini menyebut wilayah Bali sebagai ‘Walidwipa’ atau ‘pulau persembahan’.
Penyebutan ini menegaskan peran penting Bali sejak masa Kerajaan kuno sebagai pusat spiritualitas dan kebudayaan.
Nama Bali ini sendiri bukan sekedar label geografis, namun sebagai cermin identitas.
Kata ‘Bali’ mengingatkan bahwa pulau ini dibangun di atas tradisi persembahan, pengabdian dan keseimbangan hidup.
Sementara itu menurut Bahasa asli Bali sebelum kedatangan Hindu, yakni Bali Aga, penamaan ‘Bali’ berarti ‘tinggi’ atau ‘gunung’.
Hal ini merujuk pada keberadaan Gunung Agung, gunung berapi tertinggi di Bali, yang dianggap suci oleh Masyarakat Bali.
Sebagai salah satu pusat budaya dan agama Hindu di Indonesia, Bali memiliki akar yang dalam, dalam tradisi spiritual Hindu – Bali yang telah ada selama berabad – abad.
Namun, juga tidak lepas dari pengaruh kebudayaan lokal, kerajaan – kerajaan besar, dan bahkan penjajahan yang datang dari berbagai negara.
Bali sendiri memiliki hubungan erat dengan Sejarah Kerajaan – Kerajaan besar di Nusantara, termasuk Majapahit, yang meninggalkan jejak Sejarah yang sangat penting dalam perkembangan kebudayaan dan agama Hindu di pulau ini.
Ada sebuah cerita legenda tentang asal – usul Pulau Bali yang konon dulunya pernah menyatu dengan Pulau Jawa.
Cerita ini dikenal dalam Kitab Babad Bali, yang mengisahkan peristiwa pemisahan kedua pulau tersebut, yang terjadi akibat sebuah kejadian mistis yang melibatkan seorang brahmana bernama Sidhi Mantra.
Sidhi Mantra diceritakan melakukan meditasi yang sangat mendalam hingga akhirnya ia mampu memisahkan Pulau Dewata, yang kini dikenal sebagai Bali dari Tanah Jawa.
Sidhi Mantra berasal dari Kerajaan Daha di Kediri, Jawa Timur.
Sebagai brahmana yang dihormati, Sidhi Mantra memiliki seorang putra yang bernama Manik Angkeran.
Manik Angkeran memiliki kebiasaan buruk, yaitu kecanduannya pada permainan judi. Akibat kebiasaan buruknya itu, Manik terjerat dalam utang yang sangat banyak.
Suatu hari, Ketika ia tidak mampu lagi membayar utangnya, ia memutuskan untuk meminta bantuan pada ayahnya, Sidhi.
Sidhi kemudian meminta bantuan dari makhluk mitologi yang dipercaya memiliki kekuatan luar biasa di Gunung Agung, Naga Basuki.
Sesampainya di Gunung, Sidhi mengeluarkan sebuah genta dan menyembunyikannya dengan harapan bisa membangunkan Naga Basuki.
Genta tersebut terdengar menggema hingga akhirnya sang naga muncul dan memberikan beberapa keping emas sebagai bantuan untuk membayar utang Manik.
Manik kemudian berhasil melunasi hutangnya dan berjanji tidak berjudi lagi. Namun janji tersebut diingkari oleh Manik.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, Manik mencuri genta yang digunakan untuk memanggil Naga Basuki.
Manik kemudian pergi ke Gunung dan berhasil membangunkan Naga Basuki. Manik terpesona melihat sosok naga dengan kilauan emas di Mahkotanya.
Manik segera mencari kesempatan untuk memotong ekor Naga Basuki yang terlihat sangat berharga.
Namun, tindakan Manik itu justru memicu kemarahan Naga Basuki. Sang Naga merasa dikhianati dan membalas perbuatan Manik dengan menyemburkan api yang sangat besar, hingga menyebabkan kematian Manik.
Sidhi menyesali perbuatan Manik dan meminta maaf pada Naga Basuki. Ia memohon agar anaknya dihidupkan Kembali.
Naga Basuki bersedia menghidupkan Manik Kembali dengan syarat ekornya dikembalikan. Keduanya sepakat, hingga akhirnya Manik hidup Kembali.
Namun, hidup Manik tidak Kembali seperti semula. Sidhi merasa anaknya belum sepenuhnya berubah, ia kemudian menyerahkan Manik pada Naga Basuki untuk dijaga.
Sidhi kemudian Kembali ke Daha dan meninggalkan Manik di Gunung Agung tempat akhirnya menetap.
Di perjalanan pulang, Ketika Sidhi tiba di Genting, ia khawatir Manik akan merusak hidupnya Kembali dengan berjudi. Ia kemudian memutuskan untuk melakukan meditasi.
Setelah beberapa waktu, Sidhi menggoreskan tongkatnya ke tanah, dan tempat meditasi tersebut kemudian berubah menjadi perairan yang kini dikenal sebagai Pura Segara Rupek, di Buleleng. Perairan tersebut hanya berjarak sekitar dua kilometer dari Pulau Jawa.
Kontributor : Kanita