facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Lapisan Cokelat Tebal Serupa Jelly di Teluk Bima Terungkap, Ini Paparan Tim dari IPB

Eviera Paramita Sandi Selasa, 03 Mei 2022 | 08:21 WIB

Lapisan Cokelat Tebal Serupa Jelly di Teluk Bima Terungkap, Ini Paparan Tim dari IPB
Limbah di Perairan Teluk Bima. [Foto : Istimewa/beritabali.com]

Prof Hefni bersama tim juga berkoordinasi dengan Dr Paryono dari Unram. Tim Unram juga melakukan pengambilan contoh lapisan cokelat dan contoh air.

SuaraBali.id - Tim Institut Pertanian Bogor (IPB) University melakukan respon cepat terhadap fenomena munculnya lapisan cokelat tebal di Teluk Bima, Nusa Tenggara Barat.

Hasil identifikasi cepat tim IPB University dan tim Universitas Mataram (Unram) menunjukkan adanya kelimpahan fitoplankton yang sangat tinggi dari kelas Bacillariophyceae (Diatom). Fitoplankton tersebut diduga mengarah pada genus Navicula atau Mastogloia dengan estimasi kelimpahan berkisar 10–100 miliar sel per liter.

Tim dari Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (SPL) Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University dipimpin oleh Prof Hefni Effendi yang merupakan Pakar Lingkungan IPB University.

Beranggotakan Mursalin Aan M Si, yang merupakan Ahli Kualitas Air; Reza Zulmi M Si, dosen IPB University dari Departemen MSP; dan Luluk DW Handayani, M Si, peneliti PPLH IPB University.

Baca Juga: Dampak Limbah di Teluk Bima, Kini Warga Keracunan Ikan Hingga Ribuan Bangkai Berbau Tak Sedap

Dalam pengambilan sampel pada Jumat (29/3/2022), Prof Hefni dan tim berkoordinasi dengan alumnus IPB University dari Departemen MSP FPIK, Maulana Ishak S Pi, yang berdomisili di Bima. Maulana juga merupakan Ketua Yayasan Kabua Dana Rasa (LSM Lingkungan).

Prof Hefni bersama tim juga berkoordinasi dengan Dr Paryono dari Unram. Tim Unram juga melakukan pengambilan contoh lapisan cokelat dan contoh air.

“Kesimpulan yang dapat diintisarikan dari kajian awal ini adalah, adanya lapisan coklat serupa jelly ini merupakan material biologis berupa biomassa fitoplankton (Bacillariophyceae) yang mengalami peledakan pertumbuhan pesat (blooming), yang sudah mati dan mengapung di permukaan laut,” kata Prof Hefni.

Dengan mengacu pada baku mutu air laut berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, ambang batas kelimpahan fitoplankton bagi wisata bahari dan biota laut adalah 1.000 sel per mililiter. Dengan kata lain, kelimpahan fitoplankton yang melebihi ambang batas tersebut dianggap tidak baik bagi wisata bahari dan biota laut.

Tidak hanya itu, apabila dibandingkan dengan fenomena blooming lainnya, kelimpahan plankton jenis diatoms ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Penelitian Damar et al. (2021) di Teluk Jakarta hanya melaporkan hitungan puluhan juta sel per liter.

Baca Juga: Tumpahan Minyak di Teluk Bima Menyulut Kegeraman Warga, Perairan Sempat Seperti Gurun

Konsentrasi unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan silikat yang berlebih, dapat memicu pertumbuhan pesat fitoplankton di kolom air. Pertumbuhan logaritmik yang pesat fitoplankton di kolom air bisa berlangsung 3-5 hari. Setelah itu, fitoplankton akan mengalami fase stationary (pertumbuhan normal) dan fase death (mati alami).

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait