facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

5 Perang Puputan Bersejarah Dan Kisah Heroik Rakyat Bali Mengusir Penjajah

Eviera Paramita Sandi Rabu, 20 Oktober 2021 | 11:45 WIB

5 Perang Puputan Bersejarah Dan Kisah Heroik Rakyat Bali Mengusir Penjajah
Perang Puputan di Bali

Puputan sendiri adalah tradisi masyarakat di Bali yang merupakan tindakan perlawanan habis-habisan sampai mati

Ini disebabkan oleh etika peperangan masih dijunjung tinggi oleh para pihak yang bertikai. Selain itu persenjataan yang dipergunakan kedua belah pihak berimbang.

Biasanya setelah perang usai, pemimpin dan prajurit yang setia akan mengasingkan diri ke tempat yang agak jauh dari ibukota kerajaan. Rakyat yang kalah pun akan diperlakukan sama seperti rakyat yang memengkan perang dan mereka akan diadopsi sebagai warga kerajaan yang menang perang.

Berbeda dengan pada masa penjajahan Belanda, rakyat Bali harus berhadapan dengan tentara belanda yang telah dipersenjatai dengan senjata modern, seperti senapan, meriam bahkan tank-tank lapis baja.

Sementara prajurit kerajaan serta rakyatnya hanya dipersenjatai keris, tombak bahkan bambu runcing. Rakyat Bali tentu sangat menyadari akan kalah berperang melawan pasukan Belanda. Tetapi kondisi ini tidak membuat rakyat Bali takluk dan menyerah kepada Belanda. Berperang adalah pilihan satu-satunya dan gugur di medan perang adalah hasilnya yang pasti.

Sejarah mencatat terjadi lima kali perang puputan. Kesemuanya merupakan perlawanan heroik rakyat Bali terhadap penjajah Belanda.

Sejarah perang puputan pertama kali terjadi pada tahun 1846 dan terkahir kali terjadi pada tahun 1946.

1. Puputan Jagaraga

Pada tahun 1846, Anak Agung Jelantik penguasa daerah Den Bukit, sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Buleleng memutuskan untuk melakukan perang puputan. Perang ini dipicu oleh politik tawan karang (menahan seluruh kapal asing yang masuk ke dermaga pelabuhan Buleleng - Bali Utara) yang diberlakukan Kerajaan Den Bukit tidak diterima oleh pihak Belanda yang mencoba masuk ke wilayah Den Bukit. Karena dipersenjatai peralatan perang modern yang lengkap, termasuk kapal laut, kapal udara, mobil perang beserta senapan-senapan apinya, maka Belanda secara membabi buta menyerang wilayah Den Bukit mulai dari pesisir Buleleng sampai ke kota kerajaan di desa Jagaraga.

Dipimpin oleh Jenderal Mayor A.V. Michiels dan sebagai wakilnya adalah van Swieten, Kerajaan Buleleng diserang dari segala tempat, udara, laut dan darat. Namun rakyat Den Bukit tidak menyerah menghadapi serangan yang sangat tidak berimbang ini. Raja Den Bukit pun mengumumkan kepada rakyat, pasukan perang dan kerabat istana untuk menghadapi Belanda sampai titik darah penghabisan. Akhirnya Den Bukit pun jatuh ke tangan Kolonial Belanda, namun atas desakan rakyat, Anak Agung Jelantik dan beberapa sesepuh Kerajaan Den Bukit berhasil diloloskan ke wilayah Kerajaan Karangasem untuk meminta perlindungan dan menyusun kekuatan untuk kembali menghadapi pasukan Belanda.

2. Puputan Kusamba

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar

Berita Terkait