Dokter Ini Tak Anjurkan ke Bali Saat Libur Panjang, Apa Penyebabnya?

Bali menjadi salah satu destinasi wisata populer untuk menghabiskan libur panjang akhir tahun. Namun, kepopuleran Bali juga meningkatkan risiko penyebaran virus Corona.

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Jum'at, 25 Desember 2020 | 17:30 WIB
Dokter Ini Tak Anjurkan ke Bali Saat Libur Panjang, Apa Penyebabnya?
Ilustrasi resor di Nusa Dua, Bali. [Shutterstok]

SuaraBali.id - Bali menjadi salah satu destinasi wisata populer untuk menghabiskan libur panjang akhir tahun. Namun, kepopuleran Bali juga meningkatkan risiko penyebaran virus Corona.

Menurut dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Evasari Hospital dr. Nugraheni Irda, Sp.PD, masyarakat yang ingin libur panjang sebaiknya menghindari 8 provinsi dengan kasus Covid-19 tertinggi di Indonesia.

8 Provinsi itu diantaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Bali, dan Kalimantan Selatan.

"Maka dari itu, hindari wilayah-wilayah tersebut untuk berlibur karena wilayah tersebut memiliki banyak destinasi wisata yang menarik sehingga banyak wisatawan yang datang berkunjung," ujar dr. Nugraheni berdasarkan siaran pers yang diterima suara.com, Kamis (24/12/2020).

Baca Juga:Yakin Mau Tahun Baru ke Puncak? 38 Kecamatan di Bogor Zona Merah COVID-19

Pendapat lain diutarakan dr. Mohammad Irfan, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Utara yang menyarankan untuk selalu mengecek status zona wilayah kasus Covid-19.

Sebisa mungkin menghindari daerah red zone sehingga keterpaparan terhadap covid semakin berkurang.

"Kuncinya adalah kedisiplinan menjaga 3M memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak,” ungkap dr. Irfan.

Lebih lanjut, dr. Irfan juga mengingatkan untuk memilih area rekreasi wisata dengan ruangan terbuka seperti pegunungan, situs budaya seperti candi, pantai, taman kota, kebun, berkemah di kaki gunung, dan lain sebagainya.

Sangat penting untuk selalu menghindari tempat keramaian dan cari tempat wisata yang selalu menjaga protokol kesehatan dengan ketat.

Baca Juga:Update Covid-19 Global: Terbaru, Jumlah Positif di Malaysia Capai 100 Ribu

"Tentunya tempat yang terbuka lebih baik dibandingkan ruang tertutup dari segi penularan Covid-19. Di ruangan terbuka, udara segar terus bergerak dan berganti membantu menyebarkan cairan atau mikro partikel sehingga kepadatan virus berkurang. Sedangkan, saat berada di dalam ruangan, terdapat penyebaran virus melalui cairan (mikro partikel) yang dilepaskan ke udara saat berbicara, batuk, atau bersin," sambung dr. ujar Nugraheni.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini