Muhammad Yunus
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 07:39 WIB
Dokumentasi: Tuan Guru Bajang (TGB) Zainun Majdi [Suara.com/Arga]
Baca 10 detik
  • Mantan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang mengecam penggerebekan pondok pesantren bersenjata di Jawa Tengah pada Oktober 2026.
  • Tindakan kepolisian saat penyidikan kasus perusakan tempat usaha tersebut dinilai tidak profesional karena menimbulkan trauma anak-anak.
  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan pendampingan psikologis dan keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak pesantren yang terdampak.

SuaraBali.id - Ulama dan Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengecam penggerebekan pondok pesantren di wilayah Sukoharjo dan Karanganyar, Jawa Tengah, yang dilakukan polisi saat perempuan dan anak-anak berada di dalam lingkungan pesantren.

Ia menilai tindakan aparat tersebut tidak profesional dan tidak proporsional, terlebih penggeledahan dilakukan dalam penyidikan kasus pembakaran dan perusakan tempat usaha.

“Pembakaran warung memang kriminal, tapi penyelidikannya juga harus profesional,” kata TGB, Sabtu 31 Oktober 2026.

Menurut dia, penanganan kasus kriminal tidak seharusnya dilakukan dengan cara yang justru menimbulkan trauma bagi anak-anak yang berada di lingkungan pendidikan keagamaan.

TGB menyebut penggerebekan tersebut menyisakan dampak psikologis bagi warga pesantren. Belasan anak di bawah umur dan perempuan disebut berada di lokasi ketika aparat melakukan penggeledahan.

Bahkan, berdasarkan kronologi dari pihak pesantren, pintu pondok didobrak saat penggerebekan berlangsung.

Ia menegaskan, penegakan hukum harus tetap mengedepankan profesionalitas dan memperhatikan dampak tindakan aparat terhadap masyarakat, terutama anak-anak.

“Bukan seperti ini kepolisian yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, termasuk yang disampaikan oleh Bapak Kapolri bahwa polisi itu bersama masyarakat,” ujarnya.

TGB juga menilai tindakan tersebut bertentangan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan perlindungan kepada seluruh rakyat.

Baca Juga: Kekerasan Seksual Santriwati di Lombok Tengah, DPR Wanti-wanti Polisi: Jangan Lindungi Pelaku

Menurut dia, pengerahan pasukan bersenjata lengkap dengan senjata laras panjang pada tengah malam semestinya dilakukan secara terukur sesuai kebutuhan dan tingkat ancaman.

Ia menyebut aksi brutal seperti itu hanya cocok untuk penanganan kejahatan yang berdampak luas. Persoalan yang membutuhkan penindakan serius.

Penggerebakan dengan pasukan bersenjata lengkap laras panjang tegah malam harus diarahkan ke orang - orang yang melakukan kejahatan merusakan negara

"Misalnya pembakar hutan dan lahan itu tolong digerebek seperti itu (pasukan bersenjata)".

TGB meminta hal ini menjadi perhatian. Kepolisian tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi kalau ingin mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Pemprov Jateng Siapkan Pendampingan Anak

Load More