- Sebuah video viral merekam fenomena kabut putih tebal yang menyelimuti Kabupaten Tabanan, Bali, pada hari Rabu (21/10).
- Kepala Stasiun Klimatologi Bali menjelaskan bahwa fenomena tersebut adalah kabut adveksi yang terbentuk akibat perbedaan suhu udara.
- Pihak berwenang memastikan kabut tebal itu bukan berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
SuaraBali.id - Sebuah video viral di media sosial yang memperlihatkan kabut putih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Tabanan, Bali, pada Rabu (21/10).
Dalam rekaman video itu, kabut terlihat di Jalan Bypass Kediri serta kawasan Gubug dan Yeh Gangga, Kecamatan Kerambitan di wilayah Kabupaten Tabanan, Bali.
Sementara, kemunculan kabut itu menjadi sorotan di media sosial dan memicu spekulasi. Sejumlah warganet bahkan menduga kabut tersebut merupakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Klimatologi Bali Aminudin Al Roniri mengatakan, dari analisis berdasarkan video yang beredar di Tabanan tersebut, fenomena seperti asap atau kabut putih tebal yang menyelimuti area dataran rendah atau daerah yang berada di sekitaran pesisir pantai tersebut dikenal dengan istilah kabut adveksi.
"Kabut adveksi itu terbentuk, ketika angin mendorong massa udara tropis yang hangat dan lembap dari permukaan laut atau tanah yang suhunya lebih dingin atau tekanan tinggi ke wilayah yang suhunya lebih hangat atau tekanan rendah," kata Aminudin, dikonfirmasi Kamis (22/10/2026).
Kemudian, perbedaan suhu yang terjadi tersebut menyebabkan uap air di udara langsung mengembun di dekat permukaan, sehingga menciptakan lapisan kabut tebal.
"Kabut tebal ini merupakan fenomena cuaca, bukan disebabkan oleh asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan, karena citra satelit sebaran asap karhutla Kalimantan memperlihatkan bahwa asap mengarah ke barat, barat laut, dan utara, wilayah Bali tidak termasuk wilayah terdampak sebaran asap karhutla tersebut," imbuhnya.
Kemudian, kabut adveksi ini umumnya tidak berbau, membuat cuaca di sekitar menjadi agak lembap, tetapi juga tidak begitu segar.
Fenomena kabut adveksi ini biasanya terjadi pada musim kemarau saat kondisi suhu udara di daratan sedang tinggi, bergantung pada tingkat kelabilan atmosfer di masing-masing lokasi.
Baca Juga: El Nino Menggila hingga 2027, Daerah Mana saja di NTB Bakal Segera Disiram Hujan?
"Sehingga tidak seluruh daerah dataran rendah atau dekat pesisir di Bali yang mengalami fenomena serupa," ujarnya.
Kontributor : M Dafi
Berita Terkait
Terpopuler
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Pengamat Nilai Manuver KSP Listyo Bongkar Hambatan Birokrasi Jadi Investasi Jangka Panjang
- Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Sakit Apa? Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Pimpinan Ponpes di Lombok Barat Ajak Masyarakat Stop Beri Stigma Negatif
-
Menuju 131 Tahun, BRI Teguhkan Peran Sebagai Penggerak Ekonomi Rakyat
-
El Nino Menggila hingga 2027, Daerah Mana saja di NTB Bakal Segera Disiram Hujan?
-
Selaras dengan Asta Cita, BRI Perkuat Pembiayaan Produktif dan Inklusi Keuangan
-
Blak-blakan Menteri Bahlil Soal Penyebab Antrean BBM di Bali dan Solusi Kilatnya