Eviera Paramita Sandi
Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:05 WIB
Proses pembuatan Pie Susu Sissy di Bali [Suara.com/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Purwaningsih merintis usaha Pie Susu Sissy di Bali sejak tahun 2006 dan kini sukses memproduksi hingga 50.000 buah per hari.
  • Produk tersebut memanfaatkan resep tanpa pengawet serta mengusung label halal, sehingga mampu menembus jaringan peritel nasional dan minimarket.
  • Penerapan penjualan digital melalui Shopee sejak 2022 berhasil meningkatkan omzet online hingga mencapai Rp80 juta setiap bulannya.

Kunci keberhasilan lainnya terletak pada keberanian Sisy mengusung identitas jaminan halal secara terbuka sejak awal berdiri. Strategi ini menjadi magnet kuat bagi wisatawan domestik, khususnya wisatawan Muslim dari berbagai daerah di Indonesia yang sering kali ragu saat berburu oleh-oleh di Bali.

 "Turis lokal dari Jawa pasti cari yang halal. Dulu di Bali orang ada saja yang lebih memilih makanan halal. Jadi kepercayaan itu yang bikin peminat kita terus naik dan stabil," tambahnya.

Kini, demi terus relevan dan memanjakan lidah konsumen, Sisy meluncurkan lini produk anyar "Sissy Recipe" dan beragam varian seperti Pia Kacang, Bakpia, Kacang Bali, Lapis Legit, hingga Brownkies (brownies kering). Toko utamanya di Jalan Sesetan pun kini disulap menjadi galeri perpaduan outlet oleh-oleh dan coffee shop yang nyaman.

Suasana Coffee Shop dan outlet Pie Susu Sissy yang terletak di Jalan Sesetan, Denpasar, Bali [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]

Transisi Digital dan Ambisi Menguasai Pasar Nusantara

Langkah besar Pie Susu Sissy terjadi saat mereka memutuskan melompat ke ranah digital melalui e-commerce. Bergabung dengan Shopee pada tahun 2022 lewat nama toko Pie Susu Sissy Official Store, perkembangan bisnis digital mereka melesat tajam.

Dari omzet awal e-commerce yang berada di bawah Rp20 juta per bulan, kini penjualan online menyumbang Rp80 hingga Rp100 juta setiap bulannya.

Keberhasilan digital ini disokong penuh oleh strategi pemasaran modern. Sisy mempekerjakan tim marketing online yang terdiri dari empat anak muda kreatif. Tim ini mengoperasikan siaran Live Shopee sebanyak 6 kali sehari, merancang konten media sosial yang interaktif, serta memaksimalkan fitur iklan, promo gratis ongkir, dan program affiliator marketing.

Meski demikian, jualan online bukan tanpa tantangan. Alya, salah satu tim marketing Pie Susu Sissy, mengungkapkan dinamika berjualan di platform digital yang serba terbuka.

"Karena ini platform online transparan, konsumen bisa memberikan bad review yang tak bisa dihindari. Selain itu saat peak season seperti menjelang hari raya Galungan, Idulfitri, dan liburan panjang, wisatawan yang datang ke Bali banyak yang mengandalkan pengiriman instan. Penjualan online harian kita sendiri bisa mencapai 30 sampai 50 orderan sehari," jelas Alya.

Baca Juga: Men Jenggo Berpulang, Ternyata Ini Asal Usul Unik 'Nasi Jinggo' Wajib Diketahui Pecinta Kuliner

Dari sebuah hobi rumahan yang dipandang sebelah mata, Pie Susu Sissy kini menjelma menjadi korporasi kuliner yang menaungi hampir 90 orang karyawan di seluruh Bali, mencakup tim produksi, staf toko, hingga unit back office. Selain dua toko utama di Bali dan satu mitra di Tabanan, jangkauan retailnya telah merambah hampir seluruh penjuru Indonesia.

Target Sisy ke depan sangat jelas dan berani: menjadikan Pie Susu Sissy sebagai pikiran pertama (top of mind) setiap orang yang menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

"Target ke depan, setiap orang ke Bali, langsung kepikiran mencari oleh-oleh Pie Susu Sissy. Di sini lengkap, tidak cuma pie susu saja," tutup Sisy optimis.

Load More