Muhammad Yunus
Rabu, 08 Juli 2026 | 19:52 WIB
PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) pada Rabu 8 Juli 2026 memulai pembangunan PSEL di Bali [SuaraBali.id/Danantara Indonesia]
Baca 10 detik
  • PT Danantara dan PT Denera membangun fasilitas PSEL di Pedungan, Denpasar dengan investasi Rp3 triliun mulai Juli 2026.
  • Fasilitas PSEL menggunakan teknologi modern ramah lingkungan yang ditargetkan beroperasi penuh untuk menuntaskan masalah sampah Bali tahun 2028.
  • Proyek strategis ini diproyeksikan mampu menurunkan emisi sebesar 80 persen serta menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau bagi masyarakat.

SuaraBali.id - Sengkarut masalah sampah di Bali yang sudah menjadi sorotan internasional kini mulai serius dibenahi dengan dibangunnya fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pertama dengan nilai investasi mencapai Rp 3 triliun.

Proyek besar ini akhirnya direalisasikan oleh PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) pada Rabu 8 Juli 2026 setelah berbagai kontroversi yang muncul sejak adanya larangan pembuangan sampah langsung atau open dumping di TPA Suwung Denpasar.

PSEL yang dibangun di kawasan Pedungan Denpasar Selatan ini ditargetkan akan rampung dan mulai beroperasi pada semester 1 tahun 2028.

CEO Danantara, Rosan Roeslani mengatakan bahwa teknologi yang digunakan untuk PSEL Bali ini sudah terbukti di 50 negara.

"Ini adalah teknologi yang bisa mengambil semua sampah yang ada. Mau sampah baru, mau sampah lama bisa diambil atau diserap," Ujarnya.
Menurutnya teknologi pengolahan sampah ini akan bersih dan tidak bau, seperti halnya yang sudah disaksikannya di China.

"Di sana malah dibangun di kawasan pemukiman elite seperti di Pondok Indah, di tengah-tengahnya itu ada PSEL nya. Karena bersih dan tidak bau bahkan di belakangnya dibangun taman bacaan dan rekreasi untuk anak-anak," Katanya.

Ia berharap nantinya tempat pembuangan sampah di Indonesia bisa seperti demikian sehingga tidak lagi kotor dan dihindari.

Sementara itu Gubernur Bali, I Wayan Koster mengungkap bahwa peresmian ini sengaja dilakukan di hari Rabu Umanis Medangsia yang menurut kepercayaan Bali adalah hari yang baik yang dimaknai memuliakan bumi Pertiwi sehingga pemrosesannya bisa berjalan lancar.

Ia pun menjelaskan bahwa lahan untuk PSEL Bali ini diberikan oleh Wali Kota Denpasar dan Pelindo Bali seluas 6 hektar yang terletak di dekat pelabuhan Benoa dan Tol Bali Mandara.

Baca Juga: Bali Mulai Bangun Pabrik Sampah Jadi Listrik, Rp3 Triliun Pakai Teknologi 50 Negara

"Ini adalah lokasi yang sangat strategis," Tegasnya. Menurutnya upaya mematangkan lahan proyek pengolahan sampah ini juga dilakukan oleh Bupati Badung dengan biaya sebesar Rp 35 miliar.

"Jumlah ini tidak ada artinya untuk Badung karena hotelnya banyak. Jadi kalau ini bersih kan akan sangat bagus untuk pariwisata," Jelasnya.

Dengan adanya pembangunan PSEL yang dijanjikan bisa rampung pada Oktober 2027 ini diharapkan masalah sampah di Bali bisa tuntas sehingga bukan hanya ekosistem masyarakat yang diselamatkan tapi juga citra pariwisata Bali.

Sebagaimana disebutkan bahwa PSEL Bali dirancang menggunakan teknologi moving grate incinerator, teknologi yang digunakan mayoritas fasilitas PSEL yang beroperasi di dunia.

Teknologi ini dipilih karena keandalan operasionalnya dinilai sudah terbukti serta sesuai karakteristik sampah perkotaan di Indonesia.

Selain itu fasilitas PSEL Bali dirancang mengikuti standar lingkungan Eropa, atau European Industrial Emissions Directive (EU IED), sebagai acuan pengendalian emisi yang ketat.

Load More