- Pemerintah Kota Mataram menyatakan kelompok LGBT telah ada di wilayahnya namun bergerak secara tertutup dan tidak terang-terangan.
- Wali Kota Mohan Roliskana menegaskan pemerintah tidak memberikan ruang bagi perilaku tersebut serta menolak segala bentuk normalisasi.
- Pemerintah mengajak masyarakat dan sekolah mengawasi serta memberikan pemahaman kepada generasi muda guna mencegah penyebaran perilaku menyimpang.
SuaraBali.id - Keberadaan kelompok LGBT di Kota Mataram kian menjadi sorotan. Pasalnya, kasus lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di ibukota Provinsi NTB ini diduga sudah ada namun tidak muncul secara terang-terangan.
Pemerintah Kota Mataram memastikan tidak memberikan ruang terhadap berkembangnya perilaku tersebut.
Hal ini menanggapi pernyataan dari Pakar Kesehatan Jiwa dr. Rosalina Utamy dalam sebuah podcast.
Dimana, ia mengatakan keberadaan kelompok LGBT kian menjadi sorotan.
Pasalnya, kasus LGBT ini sudah ada di permukaan hanya saja pergerakannya cenderung tertutup dan tidak muncul secara formal atau terang-terangan.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana mengatakan kasus LGBT ini tidak hanya menjadi perhatian pemerintah daerah melainkan semua pihak untuk membantu.
Partisipasi masyarakat ini sangat diperlukan untuk bisa mengontrol dan bahkan memberikan pemahaman tentang perilaku menyimpang tersebut.
Dikhawatirkan, perilaku menyimpang ini bisa menular ke yang lain. Sehingga memberikan dampak yang nyata di tengah masyarakat.
“Kondisi ini menjadi keprihatinan kita semua memberikan perhatian khusus terhadap potensi berkembangnya perilaku menyimpang ini,” katanya, Selasa (9/6).
Baca Juga: Strategi Pemkot Mataram Agar Parade Ogoh-ogoh dan Takbiran Tidak Saling Ganggu
Mohan menegaskan, pemerintah daerah tidak memberikan ruang sedikitpun untuk menormalisasi terhadap perilaku tersebut.
Dengan begitu, pemerintah mengajak semua pihak untuk terlibat aktif mengawasinya.
“Kita pemerintah berharap kerjasama semua pihak,” harapnya.
Lingkungan sekolah ditekankan untuk melakukan pengawasan yang ketat dan membantu memberikan pemahaman kepada para peserta didik.
Sehingga para peserta didik paham tentang adanya kelompok tersebut namun paham bahwa hal itu merupakan perilaku menyimpang tersebut yang harus dihindari.
“Di sekolah memberikan penyadaran supaya anak kita bukan menganggap itu hal yang lumrah atau biasa di tengah – tengah interaksi sosial mereka,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo