Muhammad Yunus
Senin, 30 Maret 2026 | 13:15 WIB
Menu-menu kuliner saat lebaran Topat di Lombok, Nusa Tenggara Barat [SuaraBali.id/Buniamin]
Baca 10 detik
  • Masyarakat Lombok merayakan tradisi Lebaran Ketupat atau Lebaran Topat seminggu setelah Idulfitri, melibatkan ziarah dan makan bersama.
  • Perayaan utama di Kota Mataram berpusat di Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq dengan pembagian ketupat besar dan doa bersama.
  • Tradisi ini juga memunculkan aktivitas ekonomi musiman berupa pedagang dadakan di Jalan Airlangga yang menjual menu khas Lebaran Topat.

Biasanya pengunjung datang untuk berziarah terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai.

“Biasanya sebelum ke pantai, pengunjung ziarah dulu ke makam,” katanya.

Pantauan di lokasi menunjukkan jumlah pengunjung sangat padat. Bahkan untuk masuk ke area makam, warga harus antre karena banyaknya peziarah yang datang bersamaan.

Namun kemeriahan Lebaran Topat tak hanya terasa di kawasan makam. Di sudut lain Kota Mataram, tepatnya di Jalan Airlangga, suasana juga tak kalah ramai.

Sejumlah ibu rumah tangga tiba-tiba menjelma menjadi pedagang musiman.

Mereka menjajakan berbagai menu khas Lebaran Topat di sepanjang jalan tersebut.

Fenomena pedagang dadakan ini sudah menjadi pemandangan khas setiap tahun.

Tujuannya sederhana, membantu masyarakat yang ingin menikmati hidangan Lebaran Topat tanpa harus repot memasak di rumah.

Ani, salah satu pedagang asal Sekarbela, mengaku setiap tahun selalu ikut berjualan saat momen Lebaran.

Baca Juga: Lebaran di Bali? Cicipi 5 Kuliner Legendaris yang Bikin Lidah Joget

“Pokoknya setiap lebaran kita jualan. Lebaran Idulfitri, Lebaran Topat, sama Idul Adha. Tapi yang paling ramai itu pas Lebaran Ketupat,” katanya.

Menu yang dijual pun lengkap. Mulai dari ketupat, jajan bantal, opor ayam, tahu-tempe, urap, olah-olah sayur hingga pelecing khas Lombok.

Untuk ketupat, Ani menjualnya seharga Rp20 ribu per ikat yang berisi lima buah.

Sementara jika ingin makan langsung di tempat, pembeli cukup membayar sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per porsi, tergantung lauk yang dipilih.

“Kalau pakai ayam kampung tentu beda lagi harganya, karena memang lebih mahal,” ujarnya sambil tersenyum.

Aktivitas berjualan ini biasanya hanya berlangsung dua hari. Dalam sekali produksi, Ani menyiapkan sekitar 3 kilogram beras untuk membuat ketupat.

Load More