- Masyarakat Lombok merayakan tradisi Lebaran Ketupat atau Lebaran Topat seminggu setelah Idulfitri, melibatkan ziarah dan makan bersama.
- Perayaan utama di Kota Mataram berpusat di Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq dengan pembagian ketupat besar dan doa bersama.
- Tradisi ini juga memunculkan aktivitas ekonomi musiman berupa pedagang dadakan di Jalan Airlangga yang menjual menu khas Lebaran Topat.
Biasanya pengunjung datang untuk berziarah terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai.
“Biasanya sebelum ke pantai, pengunjung ziarah dulu ke makam,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan jumlah pengunjung sangat padat. Bahkan untuk masuk ke area makam, warga harus antre karena banyaknya peziarah yang datang bersamaan.
Namun kemeriahan Lebaran Topat tak hanya terasa di kawasan makam. Di sudut lain Kota Mataram, tepatnya di Jalan Airlangga, suasana juga tak kalah ramai.
Sejumlah ibu rumah tangga tiba-tiba menjelma menjadi pedagang musiman.
Mereka menjajakan berbagai menu khas Lebaran Topat di sepanjang jalan tersebut.
Fenomena pedagang dadakan ini sudah menjadi pemandangan khas setiap tahun.
Tujuannya sederhana, membantu masyarakat yang ingin menikmati hidangan Lebaran Topat tanpa harus repot memasak di rumah.
Ani, salah satu pedagang asal Sekarbela, mengaku setiap tahun selalu ikut berjualan saat momen Lebaran.
Baca Juga: Lebaran di Bali? Cicipi 5 Kuliner Legendaris yang Bikin Lidah Joget
“Pokoknya setiap lebaran kita jualan. Lebaran Idulfitri, Lebaran Topat, sama Idul Adha. Tapi yang paling ramai itu pas Lebaran Ketupat,” katanya.
Menu yang dijual pun lengkap. Mulai dari ketupat, jajan bantal, opor ayam, tahu-tempe, urap, olah-olah sayur hingga pelecing khas Lombok.
Untuk ketupat, Ani menjualnya seharga Rp20 ribu per ikat yang berisi lima buah.
Sementara jika ingin makan langsung di tempat, pembeli cukup membayar sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per porsi, tergantung lauk yang dipilih.
“Kalau pakai ayam kampung tentu beda lagi harganya, karena memang lebih mahal,” ujarnya sambil tersenyum.
Aktivitas berjualan ini biasanya hanya berlangsung dua hari. Dalam sekali produksi, Ani menyiapkan sekitar 3 kilogram beras untuk membuat ketupat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Investasi Kapal Miliaran Sia-sia? Ini Penyebab Utama Kapal Menumpuk di Pelabuhan Ketapang
-
Warisan Leluhur Disulap Jadi Camilan Sehat, Produk UMKM Lombok Ini Tembus Pasar Internasional
-
Skandal Imigrasi Bali: Bagaimana 8 Pejabat Keruk Ratusan Miliar dari WNA
-
BMKG Imbau Warga Pesisir NTB Waspadai Potensi Banjir Rob
-
Mutasi Terbesar Polri: 17 Polwan Dipromosikan Jadi Kapolres