- Masyarakat Lombok merayakan tradisi Lebaran Ketupat atau Lebaran Topat seminggu setelah Idulfitri, melibatkan ziarah dan makan bersama.
- Perayaan utama di Kota Mataram berpusat di Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq dengan pembagian ketupat besar dan doa bersama.
- Tradisi ini juga memunculkan aktivitas ekonomi musiman berupa pedagang dadakan di Jalan Airlangga yang menjual menu khas Lebaran Topat.
SuaraBali.id - Suasana berbeda terasa di Pulau Lombok sekitar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri. Saat daerah lain mulai kembali ke aktivitas normal, masyarakat Lombok justru bersiap merayakan tradisi khas yang sudah turun-temurun: Lebaran Ketupat atau yang dikenal sebagai Lebaran Topat.
Tradisi ini menjadi momen spesial bagi masyarakat yang telah menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal. Perayaannya pun selalu meriah, dipenuhi kegiatan ziarah, doa bersama, hingga makan ketupat bersama keluarga dan masyarakat.
Di Kota Mataram, pusat perayaan biasanya berlangsung di dua lokasi yang sudah sangat dikenal masyarakat, yakni di Makam Bintaro, Kecamatan Ampenan, serta kawasan wisata religi Makam Loang Baloq di Kecamatan Sekarbela.
Kedua lokasi ini sejak pagi dipadati warga yang datang untuk berziarah. Rangkaian kegiatan dimulai dari aqiqah atau ngurisan, zikir, doa bersama, hingga makan bersama sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.
Di Makam Bintaro, masyarakat menyiapkan ketupat berukuran besar yang disebut ketupat agung. Ukurannya tak main-main, sekitar 30 x 40 sentimeter.
Setelah rangkaian doa selesai, ketupat tersebut kemudian dibagikan dan dinikmati bersama para pengunjung.
Sementara di Loang Baloq, ketupat disusun dalam sebuah kerangka khusus. Tahun ini jumlahnya mencapai sekitar 400 buah.
Begitu rangkaian zikir dan doa selesai, suasana langsung berubah riuh. Ratusan pengunjung berebut ketupat yang sudah disusun rapi tersebut.
Momen ini selalu menjadi daya tarik tersendiri dalam perayaan Lebaran Topat.
Baca Juga: Lebaran di Bali? Cicipi 5 Kuliner Legendaris yang Bikin Lidah Joget
Ning, salah satu pengunjung yang datang dari Solo, mengaku baru pertama kali melihat tradisi tersebut.
“Ini pertama kali saya lihat. Unik sekali. Saya ikut saja seperti orang-orang yang rebutan ketupat. Tradisi seperti ini menurut saya perlu dilestarikan,” ujarnya.
Camat Sekarbela, Arief Satriawan, mengatakan konsep perayaan tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya. Ketupat yang disiapkan berjumlah sekitar 400 buah.
Ratusan ketupat tersebut berasal dari kontribusi kader posyandu di berbagai kelurahan di Kecamatan Sekarbela.
“Jumlahnya disesuaikan dengan kerangka yang sudah dibuat. Selain ketupat, ada juga jajan bantal, lauk-pauk, serta buah-buahan,” jelasnya.
Menurutnya, setiap bulan Syawal kawasan Makam Loang Baloq memang selalu ramai dikunjungi warga.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
Terkini
-
Program Desa BRILiaN Berhasil Mengangkat Potensi Desa Sumowono
-
Kasus Mutilasi Bali: Lokasi Sementara 6 Buronan Terungkap
-
Lebaran Topat di Lombok: Ziarah, Rebutan Ketupat, hingga Pedagang Dadakan Banjir Rezeki
-
Gubernur Bali Minta Warga Ganti Nasi dengan Singkong, Mbok Niluh Balas dengan Ini
-
Tips Masuk Sekolah Favorit Sesuai Minat dan Kemampuan