Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 05 April 2025 | 19:24 WIB
Arsip foto - Kapal feri bersiap menyeberang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dari Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali, Sabtu (1/2/2025). [ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna]

Dampak Luas Hingga Darat

Tak hanya berdampak pada pelayaran, kondisi cuaca ekstrem ini juga berpotensi memicu kejadian-kejadian darurat di wilayah daratan.

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai kemungkinan genangan air, banjir lokal, tanah longsor, dan pohon tumbang yang dapat terjadi akibat angin kencang dan hujan yang mengguyur wilayah tertentu.

“Untuk masyarakat yang tinggal di wilayah rawan longsor atau yang akan melakukan perjalanan darat, harap tetap siaga terhadap kondisi cuaca beberapa hari ke depan,” tambah Cahyo.

Baca Juga: Waspada Gelombang Tinggi Capai 4 Meter di Perairan Bali

Jalur Strategis di Tengah Ancaman Cuaca

Selat Bali dan Selat Lombok bukan sekadar perairan biasa. Keduanya merupakan jalur transportasi laut vital yang menghubungkan pulau-pulau besar di Indonesia. Selat Bali, misalnya, menjadi urat nadi transportasi antara Pulau Jawa dan Bali.

Sedangkan Selat Lombok menghubungkan Bali dengan Nusa Tenggara Barat (NTB), yang juga merupakan jalur wisata dan logistik penting menjelang dan sesudah Lebaran.

Dengan tingginya volume arus balik di masa liburan ini, peningkatan kewaspadaan menjadi krusial. Pemerintah daerah, operator transportasi laut, hingga pelaku wisata perlu bersinergi untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Pantau Informasi Terkini

Baca Juga: NTT Diminta Berhati-hati Gelombang Tinggi Capai 3 Meter Beberapa Hari Ke Depan

BBMKG Wilayah III Denpasar mengajak seluruh masyarakat, terutama pengguna transportasi laut dan pelaku wisata bahari, untuk rutin memperbarui informasi prakiraan cuaca.

Load More