Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Selasa, 25 Maret 2025 | 11:50 WIB
Seniman Ogoh-Ogoh di Mataram, Nusa Tenggara Barat sedang melakukan pengecatan [Suara.com/Buniamin]

SuaraBali.id - Pemerintah Kota Mataram sudah mengeluarkan aturan-aturan selama pelaksanaan pawai ogoh-ogoh.

Pasalnya, pawai ogoh-ogoh ini akan berlangsung pada hari Jumat dan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah shalat jumat oleh umat muslim.

Salah seorang pecalang di Kota Mataram, Gede Dirgantara Pulasari mengatakan sudah mendapatkan surat imbauan selama pelaksanaan pawai ogoh-ogoh.

Meski ada pembatasan, akan tetap dipatuhi untuk menjaga toleransi beragama.

Baca Juga: Pedasnya Harga Jelang Nyepi & Lebaran: Cabai Rawit di Bali Tembus Rp130 Ribu Per Kilogram

“Kita dari STT Cakra Dharma sudah dapat imbauan dari panitia pusatnya. Pawai ogoh-ogoh itu hari Jumat kita juga sebagai umat Hindu toleransi tinggi kita,” katanya Senin (24/3) siang.

Ia mengatakan, dalam surat imbauan yang diterima dari panitia yaitu berisi waktu kumpul ogoh-ogoh yaitu mulai 09.00- 11.00 wita.

Tidak membunyikan gambelan pada pukul 11.30 – 13.00 wita. Tidak membawa minuman keras, tidak memakai kolohar dan beberapa aturan lainnya.

“Kalau jam 11.00 itu sudah tidak lagi ogoh-ogoh yang dibawa ke sana. Tidak ada lagi bunyi-bunyian. Itu sudah ada di surat edaran. Kalau sudah ada surat edaran seperti itu kita ikuti,” katanya.

Para seniman Ogoh-Ogoh di Mataram, Nusa Tenggara Barat sedang melakukan pengecatan {Suara.com/Buniamin]

Menurutnya kegiatan akan berlangsung hingga pukul 13.00 WITA namun demikian pengangkutan ogoh-ogoh ke lokasi pawai hanya sampai pukul 11.00 WITA.

Baca Juga: Kapolsek Kayangan Dicopot Buntut Kasus ASN Bunuh Diri Berujung Pembakaran Oleh Warga

Ruas jalan yang akan dilewati ogoh-ogoh ini terdapat beberapa masjid sebagai pusat pelaksanaan shalat Jumat salah satu Hubbul Wathan Islamic Center.

Untuk saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing agama, para peserta ogoh-ogoh diminta untuk mengikuti aturan yang berlaku.

“Setelah shalat Jumat baru kita akan mulai pawainya. Ini tumben hari Jumat dan berdekatan dengan pawai takbiran. Pawai takbiran itu pada saat Hari Raya Nyepi. Tapi kan kita tidak tahu kapan, kalau umat muslim ini harus nunggu sidang isbat dulu,” katanya.

Menurutnya, meski sudah ada imbauan dari panitia pusat terkait aturan pawai ogoh-ogoh, tidak menyurutkan semangat untuk ikut meramaikannya.

Pasalnya, pawai ogoh-ogoh di hari Jumat ini juga menekankan tentang arti toleransi umat beragama di Kota Mataram.

“Kita saling menghargai lah. Karena pawai ogoh-ogoh bertepatan dengan hari Jumat ya kita hargai sudara kita umat islam untuk shalat jumat dengan tidak ada bunyi-bunyian. Apalagi di sana dekat dengan masjid,” katanya.

Tahun ini ogoh-ogoh yang dibuat bertema Gatot Kaca.

Ogoh-ogoh yang berukuran cukup besar itu, menghabiskan anggaran sekitar Rp10 juta - Rp15 juta.

Anggaran yang digunakan bersumber dari beberapa sponsor dan urunan dengan para pengusaha yang ada di kawasan Cilinaya.

“Kalau tahun lalu kita buatnya itu bertema putri. Kita ada tiga sponsor tahun ini,” katanya.

Sementara itu, Dewa Tutaq mendukung adanya aturan selama pawai ogoh-ogoh. Sebagai bentuk toleransi umat beragama di Kota Mataram.

“Kita sudah dari dulu tidak ada masalah dan toleransi sudah kuat antara suku Sasak dan suku Bali,” katanya.

Menurutnya, momen ini sangat bersejarah karena sebagai salah satu perwujudan toleransi yang kuat di Kota Mataram.

“Ini harus kita jaga. Kita saling rangkul dan ini mempererat persaudaraan kita,” katanya.

Selain menjaga toleransi, pawai ogoh-ogoh tahun ini diprediksi akan sangat meriah. Pasalnya, saat ini kawasan Pejanggik sangat ramai oleh pengunjung di pertokoan.

“Jadi nanti mereka bisa berbelanja sambal nonton pawai ogoh-ogoh,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang dibuat dari bahan ringan seperti bambu, kertas, dan styrofoam, yang menjadi bagian penting dari tradisi Hindu terutama di Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi.

Ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala (kekuatan alam semesta dan waktu) yang diarak dan kemudian dibakar.

Kontributor : Buniamin

Load More