SuaraBali.id - Adanya penolakan penerapan teknologi nyamuk Wolbachia di Bali untuk menekan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) diungkap Kementrian Kesehatan (Kemenkes).
Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu hal ini karena sosialisasi yang kurang kepada masyarakat.
Banyak masyarakat yang jadi khawatir karena tidak mengetahui manfaat dari nyamuk Wolbachia.
"Memang kalau pelaksanaan di Bali penyebab saya lihat itu sosialisasi. Sampai ke akar rumput itu memang kurang, sehingga masyarakat di sana belum tahu informasi manfaatnya," kata Maxi, Jumat (24/11/2023).
Menurutnya sosialisasi ini seharusnya gencar dilakukan karena penyebaran penyebaran nyamuk Wolbachia di Bali, kata dia, berbeda dengan kota-kota lainnya yang menjadi proyek pilot.
"Di Bali memang ditangani oleh salah satu donatur yang membiayai, sehingga koordinasi di lapangan dengan Dinas Kesehatan kurang," ujarnya.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menyebutkan terdapat 76.449 kasus DBD dengan 571 kematian sejak Januari hingga November 2023. Angka ini turun dari 143.300 kasus dengan 1.236 kematian pada 2022 lalu.
"Sebetulnya, kita sudah bisa menurunkan lebih dari separuh kasus tahun lalu, tetapi angka kematian ini masih cukup tinggi. Sehingga kita perlu untuk membuat atau melakukan inovasi dalam rangka mencegah dan mengendalikan dengue," jelasnya.
Adapun Kemenkes akan melakukan teknologi ini sebagai permulaan di lima kota yakni Jakarta Barat (DKI Jakarta), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Bontang (Kalimantan Timur), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).
Baca Juga: Cerita Bule yang Sedang Berlibur di Bali Tapi Ikut Aksi Bela Palestina di Denpasar
Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Implementasi Wolbachia sebagai Inovasi Penanggulangan Dengue. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Kemenkes Sebut Hoaks Imunisasi Paling Banyak, Picu Keraguan Orang Tua
-
Kenapa Vaksin HPV Diberikan Sejak Anak-anak? Ini Penjelasan Kemenkes
-
Cara Asyik Menikmati Momen Healing dengan Sauna hingga Kuliner Sehat di Ubud Bali
-
Tolak Main di Eredivisie, Striker Bali United Jort van der Sande Menyesal Berkarier di Indonesia?
-
Kemenkes Ungkap Fakta di Balik Foto Viral Menkes Budi Gunadi Pakai Tabung Oksigen
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo