Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Jum'at, 06 Oktober 2023 | 23:00 WIB
Ilustrasi wong samar [phdi.or.id]

Itulah sebabnya mereka dan manusia bisa keluar-masuk lewat jalur sungai.

Beberapa kategori data telah berhasil dikumpulkan, yakni terkait dengan suasana umum alam para memedi, makanan para memedi, bentuk tubuh mereka, dan apa yang terjadi setelah korban penculikan (atau korban tersesat ke alam gaib) pulang kembali ke dunia manusia.

Menurut Gus Arya data ini berguna untuk kajian namun jauh dari lengkap.

"Satu kesimpulan sementara yang berhasil didapatkan adalah mengenai suasana alam para memedi tersebut. Ternyata, ada perbedaan antara alam para memedi, tonya dan wong samar," ujarnya.

Alam yang dihuni mahluk halus ini diceritakan tak disinari matahari, berbeda dengan alam wong samar yang masih diterangi Cahaya matahari. Ini menimbulkan praduga bahwa alam mereka terletak di tempat yang berbeda.

Bila dihubungkan dengan uraian dimensi bumi menurut Kitab Suci Weda, ada suatu tempat di alam semesta ini yang disebut dengan Patala Loka. Patala loka ini terdiri atas tujuh tingkatan, dan semuanya tidak disinari cahaya matahari.

Suasana di alam ini serupa senja persis seperti uraian terhadap suasana di alam memedi berdasarkan penuturan responden.

Selain itu juga terdapat ‘Bumi lain’ yang masih berhimpitan dengan Bumi tempat tinggal manusia, namun berbeda dimensi.

Sehingga bumi kita saat ini dan bumi gaib disebut nyaris ada dalam satu tempat kendati beda dimensi.

Itulah sebabnya para wong samar dikatakan masih mendapatkan cahaya matahari seperti di Bumi manusia.

Load More