Eviera Paramita Sandi
Sabtu, 09 September 2023 | 20:05 WIB
Dua orang warga saling menyerang dengan daun pandan berduri saat mengikuti tradisi Mekare atau perang pandan di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, Minggu (11/6/2023). Tradisi setahun sekali itu dilakukan warga setempat sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra atau Dewa Perang. [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj]

Kemudian saat dimulai kedua peserta akan mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mulai saling menyerang. Peserta akan memukul punggung lawan dengan daun pandan sambil menggoresnya.

Mekare-Kare juga diiringi oleh permainan gamelan yang ditabuh dengan tempo yang cepat dan sorakan peserta lain yang memberi semangat.

Setelah tradisi Mekare-Kare selesai, para peserta yang berpartisipasi akan makan bersama dengan sajian menu ayam betutu dan olahan khas lainnya tanpa rasa dendam atau marah.

Waktu Pelaksanaan Mekare-kare

Upacara ini biasanya akan diadakan pada awal Juni setiap tahunnya. Tradisi perang pandan atau Mekare-kare ini bertepatan pada upacara Ngusaba Kapat atau Sasih Sembah di depan halaman Bale Agung.

Tradisi ini diadakan selama dua hari berturut-turut dan biasanya dimulai mulai pukul 2 sore. Saat tradisi diadakan, para masyarakat setempat akan memakai pakaian adat khas Tenganan yaitu kain Tenun Gringsing.

Untuk pria hanya boleh menggunakan Kamen atau sarung dengan Saput sebagai selendang dan tidak lupa memakai ikat kepala atau udeng, para peserta yang mengikuti tradisi ini juga tidak boleh mengenakan pakaian bagian atas dan diharuskan bertelanjang dada.

Kontributor : Kanita

Baca Juga: 5 Makna Ritual Adat di Bali yang Selalu Dilakukan Umat Hindu

Load More