Namun, sayangnya hal itu tak selamanya berjalan baik bagi warga Kampung Pecinan. Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, warga Tionghoa sangat dibatasi.
Dari dibatasinya ibadah dan pertunjukan budaya seperti barong sai, hingga nama toko yang harus diganti menjadi nama Indonesia.
Menurunnya perekonomian saat itu juga membuat banyak pemilik toko yang terpaksa menjual tokonya. Alhasil, banyak toko dibeli oleh orang Arab dan India yang hingga kini menjadi toko kain.
Toko Cipta Karya milik keluarganya bahkan sudah beberapa kali berganti barang dagangan, mulai dari kopra, hasil bumi, hingga ban.
“Memang akhirnya ada yang dilepas, dijual tokonya. Biasanya dijual ke orang India atau Arab. Dengan berjalannya waktu, mungkin kita tidak mengembangkan usaha sesuai zamannya, akhirnya lama-lama mulai berkurang ekonominya,” ujarnya.
Baru saat kepemimpinan Presiden Gus Dur, warga Tionghoa dapat bernapas lega karena keberadaan mereka dan budayanya tidak dibatasi.
Namun, saat itu penduduk asli Kampung Pecinan sudah banyak yang berpindah ke tempat lain. Toko-toko di Jalan Gajah Mada pun tidak banyak yang dikelola oleh warga Tionghoa.
Toko Cipta Karya yang kini sudah menjual obat-obatan juga menjadi salah satu dari sedikit toko yang sudah berdiri sejak era ‘pelopor’ Kampung Pecinan.
Kedepannya, dia berharap agar perekonomian di kawasan Gajah Mada bisa bangkit seperti masa jayanya. Selain perekonomian, dia juga menginginkan agar kawasan tersebut bisa menjadi objek wisata yang lebih baik seperti sedia kala, dengan mempertahankan budaya yang ada.
Baca Juga: Perusakan ATM Marak di Karangasem, Komponen Mesin Diincar
Tio menyebut warga Kampung Pecinan hanya tersisa sekitar 30-40 persen saja saat ini. Tapi bagi Tio percaya keluarganya tidak meninggalkan Pecinan Gajah Mada, baginya tinggal di sana sudah seperti kehendak leluhur.
“Tidak, saya sama sekali tidak ada (niat untuk pindah). Tinggal di sini mungkin sudah kehendak leluhur saya,” pungkasnya.
Kontributor : Putu Yonata Udawananda
Tag
Berita Terkait
-
Bali United Dalam Bahaya, Lewatan Enam Laga Tanpa Kemenangan
-
Daftar 15 Penerbangan Internasional di Bandara Ngurah Rai yang Batal Karena Konflik Timur Tengah
-
Tionghoa Indonesia Diminta Perkuat Identitas Nasional di Tengah Arus Investasi Asing
-
Parade Harmoni Imlek Nusantara 2026 Digelar Sore Ini, Cek Rekayasa Lalu Lintas di Lapangan Banteng
-
Sampah Kiriman Penuhi Pantai Kedonganan Bali
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
Pilihan
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
-
Imbas Perang Iran, Pemerintah Cari Minyak dari AS demi Cegah Harga BBM Naik
Terkini
-
Sesuai Arahan Presiden, BRI Perkuat Program Gentengisasi melalui Skema KUR Perumahan
-
Obat Kangen di Balik Jeruji: Layanan Komunikasi Wartelsuspas Hubungkan Rindu Warga Binaan
-
Kekacauan Penerbangan Bali: 8 Rute Internasional Mendadak Hangus dalam 48 Jam, Ini Daftarnya
-
Jeritan Pekerja Migran dari Tengah Perang Timur Tengah
-
Jaringan WiFi Rumah Tetap Aktif Saat Nyepi di Bali, Tapi..