Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Senin, 21 November 2022 | 18:00 WIB
Ilustrasi Michat [Suarabali.id]

“Tidak pernah ada di sini (pertengkaran dan kekerasan). Kalau misalnya ada ya kami keluarkan saja,” ujar Widiarta saat ditemui pada Senin (21/11/2022).

Meski hotel tempatnya bekerja memasang tarif sewa kamar per jamnya yang dimulai dari Rp45.000 per jam, ia menyebut hotelnya tidak menerima pelanggan prostitusi.

“Karena itu (mengantisipasi pertengkaran pelanggan) kami sebenarnya tidak berani menerima yang open (prostitusi) itu,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anggota Badan Pemeliharaan Keamanan (Barhakam) Polri asal Sulawesi Selatan tewas ditikam di sebuah hotel di Jalan Pidada, Ubung, Denpasar.

Baca Juga: Sejoli Asal Inggris di Bali Lapor Polisi, Kucing Kesayangan Hingga Emas Berlian Dicuri

Polisi tersebut berinisial FNS yang juga anggota pengamanan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.

Diduga, FNS sempat mentransfer sejumlah uang ke rekening KDS sebelum bertemu. Namun setelah bertemu FNS hendak membatalkan kencan tersebut, usut punya usut karena perempuan yang dikenalnya via Michat berbeda penampakan aslinya.

Cekcok pun terjadi dan pelaku mendengar teriakan, Nahasnya FNS lalu ditikam oleh dua orang anak baru gede (ABG) pada dini hari.

Kontributor : Putu Yonata Udawananda

Baca Juga: Pelaku Penusukan Anggota Polri Dan Cewek Michat Ternyata Tak Saling Kenal

Load More