SuaraBali.id - Ritual adat Betetulak atau dalam bahasa indonesia bermakna “Kembali” dilakukan turun-temurun dilaksanakan masyarakat Desa Pengadangan, Lombok Timur (Lotim) sebagai wujud menyatukan adat dan agama.
Makna Beteulak yang berarti mengembalikan hakikat hidup kepada yang maha kuasa.
Pembina Lembaga Adat Desa Pengadangan H Asipuddin mengatakan, bahwa tradisi Betetulak sebagai kebutuhan masyarakat guna mengembalikan hakikat hidup.
Karena banyak manusia lupa momen untuk mengembalikan semuanya kepada yang kuasa.
"Itulah makna hakikat Betetulak", kata Asippuddin Rabu sore, (19/10/2022)
Ia melanjutkan, tradisi bebetulak ini sebagai ritual doa bersama tiap tahun. Guna sebagai refleksi diri selama setahun. Serta meningkatkan rasa kesyukuran umat manusia.
"Acara ini (betetulak) memang dari leluhur kami sebagai ritual doa bersama dengan masyarakat", tambahnya.
Tradisi Betetulak, pamerkan parade 5000 dulang hingga membawa mengarak bendera merah putih bersama masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, unsur pemerintah, TNI-Polri
Saat tradisi Betetulak, ibu-ibu membawa sajian makan dengan tudung saji atau masyarakat sekitar menyebutkan dulang.
Nantinya usai prosesi doa bersama masyarakat akan memakannya nasi secara bersama, mulai dari tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat.
Sebelumnya, unsur pemerintah, tokoh adat, agama dan masyarakat mengarak bendera dan nantinya akan ketemu di perempatan jalanan desa.
"Alhamdulillah bisa bersatu ditempat ini, pemerintah dan rakyat berjejer" katanya.
Usai mengarak bendera, tokoh adat dan tokoh agama dan masyarak duduk lesehan dijalanan desa. Selanjutnya membaca doa-doa yang dipimpin oleh tokoh agama. Usai pembaca doa-doa, masyarakat duduk bersama menyantap dulang-dulang yang sudah disiapkan masyarakat. Namun catatannya, makanan yang disantap jangan bersisa.
"Bapak pimpinan dari provinsi kabupaten bisa bersatau, pemuda, TNI-Polisi, tokoh agama, tokoh adat serta masyarakat bisa bersatu", pungkasnya.
Kontributor: Toni Hermawan
Berita Terkait
-
Kemarau Panjang di Kandangwesi, Bagaimana Masyarakat Adat Pulihkan Hutan Demi Jaga Sumber Air?
-
Belajar Menjaga Harmoni dengan Laut Lewat Tradisi Tetulak Tamperan
-
Dua Bulan Pascakebakaran, Wisatawan Mulai Kembali Sambangi Desa Adat Sade
-
Bosan Slasher? Ini 9 Film Folk Horror yang Cocok Ditonton saat Halloween
-
Kiamat Ekologis: Ketika Desa Adat, Hutan, dan Satwa Liar Perlahan Hilang
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah
-
70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra
-
Anak-Anak Digerebek Bak Teroris, TGB: Bukan Ini Polisi yang Dicita-citakan Pendiri Bangsa!
-
Jelang Lawan Arema FC, Pelatih Bali United Keluhkan Masalah Ini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida