SuaraBali.id - Hari Raya Nyepi tidak lama lagi akan tiba, sejumlah prosesi dijalani umat Hindu di Bali, pada Senin (28/2/2022) dilaksanakan upacara Melasti dan pada hari H nanti, umat Hindu melaksanakan Catur Brata penyepian.
Saat Tahun Baru Caka 1944 pada Kamis (3/2/2022) mendatang Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali meminta agar layanan internet untuk masyarakat umum dimatikan.
Internet hanya dapat digunakan di tempat fasilitas publik yang vital seperti rumah sakit, markas TNI/Polri, Markas Pemadam Kebakaran, dan instansi vital strategis terkait lainnya.
Bukan tanpa alasan, PHDI ingin internet untuk menjaga kesakralan dan kekhusyukan Catur Brata penyepian.
Pemadaman internet medsos pada Hari Raya Nyepi berlangsung pada tanggal 3 Maret 2022 Pukul 06.00 Wita sampai dengan 4 Maret 2022 Pukul 06.00 Wita.
Hal ini disampaikan Ketua PHDI Provinsi Bali Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana di Denpasar, Bali, pada Senin (28/2/2022).
"Kita biasa setiap tahun sejak empat tahun yang lalu kalau Hari Raya Suci Nyepi, umat Hindu di Bali khususnya, itu dihentikan internet, medsos, dan sebagainya supaya umat Hindu di Bali bisa khusuk melaksanakan Hari Raya Nyepi," kata Prof Sudiana.
PHDI Provinsi Bali bersama FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Bali mengapresiasi Menteri Komunikasi dan Informatika RI serta penyedia layanan provider. Pihaknya meminta ruang kepada umat Hindu di Bali untuk tidak bermedsos internet saat Nyepi.
"Sehingga pelaksanaan Nyepi bisa berjalan dengan Catur Brata Penyepian dan sesuai makna Nyepi itu sendiri. Jadi selama 24 jam, internet itu akan dipadamkan," tuturnya.
Pemadaman Internet selama 24 jam untuk mengikuti alur Nyepi sebagaimana filosofi tidak boleh ada pikiran, perbuatan dan perkataan yang menyimpang dari dharma yang bisa dipengaruhi oleh media sosial.
Prof Sudiana berharap Nyepi di Bali mampu menjadi contoh bagi dunia dalam membangun kesadaran diri yang religius.
“Umat Hindu supaya dibiasakan tidak melakukan hiburan melalui medsos, internet, kemudian juga umat yang lainnya, tidak mengunggah bahasa-bahasa yang memancing kemarahan, emosi, tidak juga mengunggah peristiwa-peristiwa yang memancing kerukunan umat beragama bisa menjadi pecah belah, karena di medsos ditambah bumbu-bumbu yang bisa membuat panas masyarakat, mungkin saja bisa terjadi perpecahan atau kerusuhan,” paparnya.
"Dalam Nyepi supaya dominan ada doa dan pikiran terpusat untuk memuja Tuhan, mengendalikan diri, untuk membantu alam kembali pada rotasinya, tidak sakit dia. Jika alam sakit, maka diri manusia dan isinya ikut sakit,” sambung Prof. Sudiana.
Pada saat Nyepi, Umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian, meliputi Amati Geni tidak menyalakan api dan lampu, Amati Karya tidak berkegiatan dan bekerja, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengadakan hiburan, rekreasi, bersenang-senang atau berhura-hura.
Kontributor : Yosef Rian
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah
-
70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra
-
Anak-Anak Digerebek Bak Teroris, TGB: Bukan Ini Polisi yang Dicita-citakan Pendiri Bangsa!
-
Jelang Lawan Arema FC, Pelatih Bali United Keluhkan Masalah Ini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida