Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Jum'at, 24 Desember 2021 | 14:13 WIB
Risa, Jemaah Ahmadiyah saat menceritakan kisah yang pernah dialami. Diinterogasi guru saat sekolah [SuaraBali.id / Lalu Muhammad Helmi Akbar]

Ia dipanggil, kata Risa, ketika sudah duduk di kelas 3 SMK.

"Ditanya syahadatnya apa, kitabnya apa, nabinya siapa, saya jawab sama aja," kata Risa.

Kekeliruan itu yang menurut Risa ingin sekali ia jelaskan. Ihwal anggapan tentang jamaah Ahmadiyah yang sebetulnya tidak benar dan tak berdasar.

"Itu sih, kalok bilang syahadatnya beda, kitabnya beda, padahal kita juga sama kok, kita orang Islam," ujar Risa.

Baca Juga: Pemerintah Resmi Hapus Cuti Bersama Nataru, Fakta Baru Tewasnya Mahasiswa UNS

Kini, Risa sudah melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi di Kota Mataram. Berdasar apa yang ia rasakan, ia merasa lingkungan di perguruan tinggi lebih toleran.

"Kalau di kampus ndak ada apa-apa ya, alhamdulillah saya juga dapat beasiswa," katanya.

Satu pertanyaan yang masih mengganjal di diri Risa, di lokasi pengungsian tempat mayoritas jemaah Ahmadiyah tinggal, terdapat juga jemaah kaum Nasrani. Selama bertahun-tahun, kata Risa, mereka di tempat tersebut hidup berdampingan.

"Di Transito ini juga ada keluarga kita umat Kristen," ucapnya.

"Kita hanya ingin hidup rukun, dengan siapa pun," lanjutnya.

Baca Juga: Masjid Disegel Satpol PP, Ketua MUI Depok Minta Jemaat Ahmadiyah Segera Bertaubat

Kontributor : Lalu Muhammad Helmi Akbar

Load More