Yang luput dari pengamatan saya adalah mereka dari desa mana, kapan kejadiannya dan bagaimana mereka semua bisa sampai di Bangli. Sungguh memprihatinkan, karena kebanyakan dari mereka mengalami luka bakar yang cukup serius.
Walaupun sudah sebagian besar dibawa ke rumah sakit namun masih banyak yang tetap terbaring di balai banjar. Hal tersebut dikarenakan ruangan yang tersedia di rumah sakit tidak mencukupi.
Beberapa waktu kemudian mulai ada bantuan-bantuan yang masuk baik dari pemerintah pusat di Jakarta maupun organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau negara asing lainnya. Bantuan pada umumnya berbentuk kebutuhan pangan seperti gandum dalam kemasan 50 kilogram, jagung dalam kemasan 50 kilogram, ikan asing dalam kemasan kotak kayu, susu serbuk dalam kemasan 25 kilogram dan 5 kilogram, selimut warna abu-abu dan "zebra", obat-obatan dan kebutuhan lainnya.
Suasana pada saat itu makin hari semakin mencekam. Hari-hari senantiasa diwarnai dengan hujan abu yang sesekali diselingi dengan hujan pasir. Terkadang pula terjadi hujan air rintik-rintik, namun hujan ini bukan hujan air seperti biasa namun hujan ini bisa mengganggu kesehatan khususnya gangguan pada kulit karena air hujan ini bisa membuat kulit gatal-gatal.
Kondisi alam seperti ini membuat masyarakat menjadi terhalang dalam melakukan kegiatan mereka masing-masing. Yang paling terpukul dengan kondisi alam seperti ini adalah di bidang pertanian dimana terjadi gagal panen dimana-mana dan malah banyak petani tidak bisa bercocok tanam karena areal persawahan atau tegalan diterpa dengan pasir dan abu.
Daerah-daerah yang terdampak langsung dari letusan Gunung Agung waktu itu adalah daerah Karangasem, Klungkung, Singaraja, Bangli, Gianyar, Badung (masih jadi satu dengan Denpasar), Tabanan, dan Jembrana. Daerah yang paling parah terkena dampaknya adalah Karangasem dimana sebagian besar wilayahnya yang ada di seputar lereng gunung tertimbun dengan lahar panas. Namun demikian selama letusan terjadi yang berlangsung selama berbulan-bulan juga menimbulkan dampak di wilayah hilir.
Aliran lahar yang panas ini merusak fasilitas perkantoran, jalan, dan jembatan serta rumah-rumah penduduk. Banyak sekali wilayah-wilayah permukiman yang tertimbun dengan bahan-bahan atau material vulkanik.
Begitu juga halnya yang terjadi di wilayah Klungkung. Wilayah aliran Tukad Unda yang menjadi daerah aliran lahar panas tertimbun seperti halnya yang terjadi dengan Sungai Unda yang merupakan sungai terbesar dan terpanjang di bali menjadi dangkal permukaannya. Badan sungai menjadi melebar karena timbunan material vulkanik.
Banyak desa wilayahnya tertimbun lahar dan begitu juga ladang masyarakat yang tertimbun lahar. Seingat saya aliran lahar di sepanjang Tukad atau sungai Unda menimbun dasar sungai sehingga menjadi sangat dangkal dibandingkan sebelumnya.
Aliran lahar juga menghantam jembatan gantung terpanjang di Bali yang merupakan peninggalan jaman Belanda terputus sehingga menghambat arus lalu lintas dari Karangasem dan Lombok menuju Denpasar dan Bali bagian barat. Begitu juga hamparan sawah ladang dan pemukiman yang ada di wilayah Sampalan, Gunaksa dan galiran Kabupaten Klungkung yang menghampar di sebelah selatan jalan raya antara Desa sampalan dan Kusamba tertimbun material vulkanik yang dibawa oleh derasnya aliran lahar panas dari letusan Gunung Agung.
Kalau dahulu sebelum Gunung Agung meletus saya masih ingat ketika diajak pulang kampungnya ibu saya di Subagan Karangasem, ketika melintas di jalan antara Desa Sampalan dan dan Kusamba adalah jalur yang paling saya senangi. Karena sepanjang jalan itu pemandangannya sangat menawan hati.
Hamparan sawah yang ada di sebelah selatan jalan dengan permukaannya kurang lebih 3 meter di bawah permukaan jalan raya dan menghampar luas sampai seolah-olah menyentuh bibir pantai menjadikan pemandangan bak lukisan alam yang menakjubkan.
Dimana ada perpaduan pemandangan sawah yang membentang luas dengan birunya air laut nan jauh di ujung selatan.
Apa yang terjadi saat Gunung Agung meletus adalah suatu keadaan alam yang sangat ajuh berbeda dimana pemandangan alam yang indah itu telah berubah menjadi timbunan material vulkanik yang pada prosesnya dulu membuat banyak sekali masyarakat menderita.
Namun pada era tahun 1980 an wilayah-wilayah yang terdampak seperti sampalan, Gunaksa dan Galiran disebut oleh masyarakat sebagai "tambang emas hitam". Dimana masyarakat setempat memanfaatkan timbunan material vulkanik sebagai satu komoditi yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Berita Terkait
-
Viral 3 Turis Diduga IDF Diusir dari Gym, Media Israel: Bali Tak Lagi Ramah!
-
Begini Cara Warga Israel Masuk Indonesia hingga Bisa Pelesir ke Bali hingga Toraja
-
Viral 3 Turis Diduga IDF Diusir dari Gym, Media Israel Sebut Bali Tak Lagi Ramah
-
Bursa Kripto CFX Perkuat Komitmen Keberlanjutan Melalui Aksi Pelestarian Laut di Bali
-
Viral WNA Diduga Tentara IDF di Bali, Arya Wedakarna Malah Jadi Pengikut PM Israel
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Bukan Cuma Tempat Barang Kuno, Ini Wajah Baru Museum NTB yang Siap Mendunia
-
Selamatkan Tanah Negara, Kejari Lombok Tengah Amankan Tanah Miliaran Rupiah dari Mafia Tanah?
-
Flores Kembali Diguncang Gempa Magnitudo 5,1, BMKG: Hati-hati Bangunan Retak
-
Elang Nias dan Burung Hantu Siau Dilaporkan Punah di Indonesia, Benarkah?
-
Kabar Baik! Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT Lewat Pelni Digratiskan 100 Persen