Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Kamis, 25 November 2021 | 13:55 WIB
Bhatari Sri: Subak dan Jejak-Jejak Kemuliaan. [Foto : Istimewa]

SuaraBali.id - Wayan seorang anak yang gemar bermain wayang. Ia memiliki wayang plastik yang begitu disayanginya: Bhatari Sri.

Namun oleh suatu sebab, wayang itu hanyut dan tenggelam. Bhatari Sri hilang!

Putu, kakak Wayan dan sahabatnya, Ketut, berusaha menghiburnya, menemani Wayan mencari wayangnya yang hilang.

Kisah pun bermula. Tapi benarkah Bhatari Sri hilang?

Ataukah Ia hanya bersembunyi di balik keterbatasan pengetahuan manusia?

Bhatari Sri: Subak dan Jejak-Jejak Kemuliaan. [Foto : Istimewa]

Itulah bagian cerita dari Bhatari Shri : Subak dan Jejak-jejak Kemuliaan. Ini adalah sebuah film tentang kebudayaan masyarakat Bali diproduksi oleh para seniman Bali berjudul Film ini diproduksi Kitapoleng pada 2021.

Film ini berangkat dari sosio kultural masyarakat Bali salah satunya pertanian sistem subak yang didukung oleh koreografer Jasmine Okubo, komposer Peny Chandra Rini dan Putu Septa, serta diperkuat oleh Ayu Laksmi, Cok Sawitri, Alien Child, Arya Wirawan, Apel Hendrawan, Narend, Nanta, Dewi, dan lain-lain.

Begitu banyak kearifan Bali yang diangkat dengan titik berangkat subak ini, sebagai bentuk penghormatan terhadap alam Bali yang melahirkan budaya adiluhung. Dalam film ini bisa ditemukan, bagaiman penghormatan masyarakat Bali terhadap lingkungan.

Termasuk penghormatan terhadap Bhatari Sri yang telah memberikan kelimpahan, bagaimana pakaian tradisional Bali hadir sebagai sebuah karakter atau identitas, juga mengenai Asta Kosala Kosali yang mengatur tata bangunan di Bali, dimana seluruhnya berkaitan dengan Dewata Nawa Sanga.

Bhatari Sri menjadi kunci dalam film ini. Sutradara I Gusti Dibal mengatakan, Bhatari Sri hadir sebagai spirit juga karakter wayang yang mengikat dramatik film.

Load More