Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Senin, 25 Oktober 2021 | 17:07 WIB
Ilustrasi maskapai Garuda Indonesia. (Dok : Kemenpar)

Pun, kalau pemerintah terdesak untuk menggelontorkan bantuan uang, tidak akan sanggup untuk menyelamatkan Garuda dari timbunan utang.

"Kalau diberikan Rp7 triliun dari beban utang, itu enggak signifikan. Uang itu akan habis buat bayar utang ke Pertamina atau pihak ketiga lain. Tujuh triliun itu hanya akan jadi uang hangus. Bukan menyelamatkan," tegasnya.

"Paling enggak 30 persen kalau mau menggelontorkan. Kalau tidak, akan sulit."

Ia juga memprediksi Garuda Indonesia akan membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali ke kondisi normal.

Itu mengapa dia menilai, opsi terakhir untuk menutup Garuda Indonesia "tidak bisa dicegah".

"Ini bukan the end of the world, kita harus menerima realitanya," kata Ziva Narendra.

Dia juga mengatakan, jika Indonesia tidak lagi memiliki maskapai penerbangan nasional atau flag carrier, bukan menjadi indikasi lemahnya industri penerbangan di Indonesia.

Sebab beberapa negara seperti Amerika Serikat juga tidak memiliki maskapai penerbangan nasional.

Di dalam negeri, hilangnya Garuda Indonesia juga tidak akan berpengaruh besar.

"Efeknya lebih ke aspek psikologis industrinya, karena ini maskapai paling tua dan matang. Kok begini?"

Load More