Ketut Djamal yang dibantu dengan salah satu tokoh setempat memutuskan untuk membeli lahan yang berada di Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan atau yang ditempati saat ini.
Setidaknya, proses pembelian lahan ini terjadi dalam dua tahun untuk lahan yang luasnya hampir 1 hektare ini. Sambil menunggu proses tersebut, aktivitas para anak yang tergabung dalam keluarga Pondok Yatama ini berjalan seperti biasa.
Ada yang sekolah di SD negeri, SMP Negeri, hingga SMA/SMK terdekat. Kemudian, pada 1996 para santri begitu juga dengan pendiri Lembaga akhirnya pindah ke Pondok Pesantren Bali Bina Insani.
“Jadi tahun 1996 itu kita mulai pindah dengan jalan kaki. Saat pindah juga warga sekitar sangat antusias menyambut kami,” kenangnya.
Rajutan keakraban itu berlanjut, semenjak baru pindah respons dari masyarakat sangat positif bahkan pesantren sering mendapat kunjungan. Sejak saat itu, Pondok ini juga terus berkembang setiap tahunnya, dari jumlah santri yang awalnya hanya 40 orang berkembang menjadi 100 hingga 200 orang santri.
Hingga akhirnya, Kepala SMPN 2 Kerambitan saat itu datang ke pondok untuk memberikan saran kepada H. I Ketut Djamal. Dimana ternyata Kasek tersebut merupakan keponakan dari Sofia Dewa Pere yang sebelumnya memberikan lahan untuk membangun pondok.
Ia menawarkan agar sebaiknya membangun SMP Islam mengingat jumlah santri yang banyak dan jarak dari pondok ke sekolah juga lumayan jauh. Akan tetapi karena SDM yang kurang saat itu, pihak pondok masih memikirkan saran tersebut. Kabar baiknya, Kasek SMPN 2 Kerambitan menawarkan SDM guru untuk membantu mengajar di sekolahnya nanti.
Hingga akhirnya, pada 9 Agustus 1996 dibangunlah Lembaga pendidikkan SMP Tsanawiah yang kemudian beroperasi di tahun berikutnya. Tahun 2000 menjadi angkatan pertama kelulusannya.
“Setelah itu, dari salah satu Kepala SMA juga datang ke sini untuk menawarkan hal yang sama. Mereka juga mensupport kita waktu itu dari segi SDMnya. Dan 1 Juli tahun 2000 Alyah beroperasi,” ungkapnya.
“Jadi memang sejak kami mulai lahir hingga sekarang antara Hindu dan Islam tidak ada perbedaan di sini. Kita tidak ada rencana menerima berapa guru yang Non-Muslim dan berapa guru Muslim yang terima. Namun ketika mereka ada niat untuk mengajar anak-anak kami. Kita langsung terima di sini,” tegasnya.
Kini sudah ada 385 santri yang mengenyam Pendidikan di Ponpes ini. Bahkan, mereka juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, salah satunya dari Aceh, Sumatera Utara.
Dalam keseharian mereka selalu mengedepankan toleransi terhadap agama lain. Terutama kepada Guru Hindu dan juga masyarakat sekitar. Selain itu ponpes juga membiasakan diri untuk menerapkan setidaknya tiga Bahasa yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Arab hingga Bahasa Inggris.
Diasuh Oleh 16 Guru Beragama Hindu
Ni Made Suardani merupakan salah satu guru Non-Islam yang menjadi tenaga pendidik di Ponpes Bali Bina Insani. Setidaknya ia sudah mengajar selama 17 tahun di sekolah berbasis agama Islam ini.
Suardani menegaskan, meskipun berbeda agama sekolah ini menerapkan toleransi yang sangat kuat sejak baru berdiri.
Berita Terkait
-
Bahlil: Pemerintah Dukung Penuh Pesantren, Salah Satunya Lewat MBG dan Beasiswa LPDP
-
The Invisible Villa Hadir di Ubud, Tawarkan Penginapan Transparan dengan Privasi Maksimal
-
Mencari Lailatul Qadar: Malam Ganjil Versi Muhammadiyah atau Pemerintah?
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Menang Dramatis atas Arema FC, Pelatih Bali United Bongkar Resep Jitunya
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin