SuaraBali.id - Politisi PDI Perjuangan Ruhut Sitompul akui pernah jadi 'anjing penjaga' SBY sewaktu jadi Ketua Umum Partai Demokrat. Anjing penjaga yang dimaksud adalah seseorang yang membela habis-habisan Partai Demokrat saat itu.
Namun sekarang tidak. Dalam kicauannya Ruhut di Twitternya, dia menjelaskan Partai Demokrat yang sekarang sudah berbeda.
"Banyak yang menghubungi aku, anjing penjaga Partai Demokrat yang mana? Tegas aku jawab, PD yang waktu sebagai partai terbuka, moderen, nasionalis, relegius. Jadi bukan PD yang dinasty. Aku katakan, PD sekarang hanya satu yang Ketua Umumnya Pak Moeldoko, yang satu lagi sudah demisioner MERDEKA!" kata Ruhut.
Sebelumya, Ruhut Sitompoul semprot pihak-pihak yang desak Jokowi pecat Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan atau KSP. Moeldoko kudeta Partai Demokrat hingga menjadi Ketua Partai Demokrat lewat KLB di Deli Serdang.
Ruhut Sitompul meminta agar pihak yang tidak memahami persoalan Partai Demokrat untuk tidak banyak mengomentari.
“Tolong yang tidak mengerti permasalahan di Partai Demokrat tutup mulut. Jangan sok pintar apalagi coba-coba menyuruh Presiden RI ke-7 Bapak Jokowi memecat KSP-nya Bapak Moeldoko,” tulis Ruhut di akun @ruhut sitompul pada Selasa (9/3/2021).
Menurut Ruhut Sitompul, sebagai mantan kader Demokrat, apa yang terjadi dalam partai itu sekarang adalah wujud karma.
“Ingat, yang terjadi di PD ini KARMA. Yang bicara aku, mantan Kader PD yang waktu Berjayanya sebagai Anjing Penjaga. MERDEKA,” lanjutnya.
Ruhut Sitompul memang pernah menjadi kader Partai Demokrat pada 2004 sampai 2016, dan bahkan menjabat sebagai Ketua DPP. Namun sejak tahun 2016 hingga sekarang, Ruhut Sitompul telah menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Baca Juga: AHY Vs Moeldoko: Isu Santet Memecah Ketegangan di Partai Demokrat
Ruhut Sitompul tidak menyebut dengan jelas siapa yang ia singgung terkait orang yang meminta Jokowi memecat Moeldoko. Setelah Moledoko meneriman jabatan Ketum, memang ada beberapa permintaan agar Moeldoko mundur dari istana, termasuk dari Ade Armando dan juga Eko Kuntadhi.
Namun, yang jelas meminta agar Jokowi memecat Moeldoko adalah Din Syamsuddin.
Din menyampaikan bahwa pemecatan tersebut layak dilakukan jika Jokowi memang tidak mengizinkan Moeldoko mengambil alih kepemimpinan Demokrat. Terlebih, memimpin sebuah partai hanya akan mengganggu tugas Moeldoko di KSP.
Tag
Berita Terkait
-
Mulut Kotor Donald Trump Serang Rival Demokrat di Pilpres Senat AS
-
Menakar Orasi SBY Soal Negarawan: Sindiran Politik untuk Elite atau Pesan Kebangsaan Menuju 2029?
-
Candaan SBY soal Batuk Prabowo: Hati-hati, Saham dan Rupiah Bisa Jatuh
-
Kelakar 'Batuk Prabowo', Siasat SBY Jaga Relevansi Tanpa Terlihat Mengkritik
-
SBY Singgung Faktor Kegagalan Bangsa: Kelola Negara Butuh Kerja Sama!
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo