- PT Telkom Indonesia menyatakan kapasitas kabel laut Bifrost habis dalam waktu kurang dari satu tahun akibat lonjakan AI.
- Budi Satria Dharma Purba mengungkapkan kebutuhan konektivitas komputasi AI melonjak sepuluh hingga dua puluh kali lipat saat BATIC 2026.
- Keterbatasan pasokan bandwidth internasional dan lambatnya pembangunan infrastruktur mengancam ambisi Indonesia menjadi pusat data center regional.
SuaraBali.id - Pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) memicu krisis kapasitas konektivitas global.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengungkapkan bahwa kapasitas kabel laut internasional Bifrost yang menghubungkan Singapura hingga Amerika Serikat habis terpakai dalam waktu kurang dari satu tahun, padahal proses perencanaannya memakan waktu hingga lima tahun.
Fenomena ini menyingkap lambatnya adaptasi dan pembangunan infrastruktur digital nasional dalam mengantisipasi lonjakan arus data. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Telkom terkait keterbatasan pasokan bandwidth internasional.
Direktur Wholesale dan International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, mengakui bahwa kebutuhan konektivitas untuk komputasi AI melonjak 10 hingga 20 kali lipat.
Baca Juga:3 Warga Negara Israel Diduga Anggota IDF Berprilaku Kasar di Bali
"Untuk membangun kabel dibutuhkan waktu sekitar lima tahun. Tetapi kurang dari satu tahun, kapasitasnya sudah habis. Pertanyaannya, apakah proses tersebut bisa dipercepat agar pembangunan dapat mengikuti demand," ujar Budi dalam perhelatan BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali.
Proses pembangunan jaringan bawah laut yang memakan waktu lama ini dapat mengancam ambisi Indonesia untuk menjadi pusat data center regional.
Dalam pidatonya, perwakilan Telkom Group tersebut juga menekankan bahwa ekspansi jaringan konvensional tidak lagi cukup untuk menampung beban kerja AI modern.
![Direktur Wholesale dan International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/26/52136-telkom.jpg)
Berbeda dengan infrastruktur cloud konvensional yang berfokus mendistribusikan konten mendekati pengguna akhir, komputasi AI membutuhkan interkoneksi antarkomputer dan pemrosesan pemuat data (GPU) berkapasitas raksasa.
Hal ini menuntut hadirnya jaringan kabel terintegrasi berkapasitas tinggi dengan latensi rendah dan resiliensi rute yang beragam.
Baca Juga:Pukul Pacar, Dokter di Bali Ditetapkan Tersangka dan Ditahan
"Tantangan terbesar bagi kami saat ini bukanlah mencari permintaan (demand), melainkan bagaimana kami menyediakan kapasitas pasokan (supply) yang memadai dan tepat waktu," tegasnya.
Satu dari beberapa tantangan inilah yang dijawab dengan kolaborasi lintas sektor dan negara dalam gelaran BATIC 2026. Pada forum bisnis internasional ini ada lebih dari 2.700 delegasi yang datang dengan tujuan menyatukan ekosistem untuk mendorong kemajuan kualitatif.
Gelaran ini menjadi momen penting bagi Telkom Group dalam meretas jalan dari sekadar penyedia kapasitas konektivitas (pipe provider) menjadi penggerak utama (ecosystem orchestrator) infrastruktur berbasis AI di kawasan Asia-Pasifik.