alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ajik Krisna dari Pemilik Kerajaan Pusat Oleh-oleh Bali, Banting Stir Jadi Petani Kacang

Dythia Novianty Rabu, 07 Juli 2021 | 14:14 WIB

Ajik Krisna dari Pemilik Kerajaan Pusat Oleh-oleh Bali, Banting Stir Jadi Petani Kacang
Ajik Krisna. [BeritaBali/Istimewa]

Siapa yang tidak tahu outlet oleh-oleh khas Bali, Krina. I Gusti Ngurah Anom atau yang lebih akrab disapa Ajik Krisna adalah sosok di balik suksesnya outlet ini.

SuaraBali.id - Siapa yang tidak tahu outlet oleh-oleh khas Bali, Krina. I Gusti Ngurah Anom atau yang lebih akrab disapa Ajik Krisna adalah sosok di balik suksesnya outlet ini.

Tidak hanya outlet oleh-oleh, Ajik Krisna juga memiliki banyak cabang restoran. Pada 2019, dia telah membangun tiga outlet dalam kurun waktu 10 bulan.

PT Krisna Group memiliki karyawan hingga 2.500 orang dan penyumbang pembayaran pajak paling tinggi di Bali.

Sebanyak 475 UMKM berada di bawah naungan PT Krisna Group, 90 persen merupakan UMKM lokal, dan 10 persen berasal dari luar Bali. Dalam sebulan, omzet yang dihasilkan oleh PT Krisna Group mencapai puluhan miliar Rupiah.

Baca Juga: Respons PSSI Usai Bali United dan Persipura Gagal Tampil di Piala AFC 2021

Namun di awal pandemi Mei 2020, usaha Ajik Krisna begitu terpukul. Bahkan, ia merumahkan 2.000 orang karyawannya, beberapa outlet dan restoran tutup.

“Di awal pandemi kami benar-benar stress dan terpukul, bukan karena takut bangkrut tetapi sedih harus merumahkan ribuan karyawan,” ungkapnya.

Menurut suami dari Ketut Mastrining, itu, karyawan merupakan aset yang sangat berharga. Maka dari itu, meski merumahkan ribuan karyawan, Ajik tetap membantu kebutuhan sembako karyawannya.

Bahkan, ia harus merelakan 3 mobil mewahnya dijual untuk memenuhi kebutuhan sembako semua karyawannya.

Usaha yang sebagian besar hampir tutup sementara, akhirnya membuat Ajik Krisna pulang kampung ke Singaraja untuk mengelola lahan tidur yang ia miliki. Ia turun tangan untuk mengecek lahan yang bisa diproduktifkan dan lahan yang bisa dijual.

Baca Juga: Pemerintah Pertimbangkan PPKM Darurat di Luar Jawa-Bali

Sebelum memutuskan untuk bertani, ia sempat mendapat bully-an dari berbagai pihak. Namun tekadnya bertani sudah bulat, baginya tak ada kata gengsi dalam memulai usaha apa pun.

Bersama 12 orang tim dan 12 petani ia mulai menggarap 23 hektare lahan yang berada di kawasan Desa Pengulon, Buleleng. Lahan ini mudah dijangkau dan berada di pinggir pantai sehingga sangat cocok ditanami komoditi kacang tanah.

Kacang tanah memiliki masa panen singkat, bulan enam mulai ditanam dan bulan sembilan sudah bisa dipanen.

“Awalnya lahan ini ditanami mangga, pisang dan kelapa, tetapi setelah dicek PH-nya, ternyata cocok untuk ditanam kacang tanah,” jelasnya.

Permasalahan pasca panen pun mulai muncul. Produksi yang melimpah rupanya tak mampu diserap pasar secara menyeluruh.

Alhasil, 50 persen hasil panen dijual dan 50 persen lainnya dibagikan kepada karyawan dan masyarakat secara gratis.

Dari pengalaman ini, Ajik Krisna mulai belajar bahwa pertanian tidak hanya bisa diselesaikan di hulu, tetapi juga diselesaikan hingga ke hilir.

Persoalan pasca panen produksi kacang tanah, akhirnya membuat Ajik Krisna memproduksi oleh oleh Kacang Ajik. Produksi Kacang Ajik sukses menjadi salah satu oleh-oleh terbaik khas Bali.

Bahkan, pihaknya berencana menanam kacang tanah di berbagai wilayah di Bali, salah satunya di Jembrana yang akan ditanami 60 hektare.

“Kami ingin Bali menjadi pemasok kacang tanah terbaik di Bali,” imbuhnya dilansir laman BeritaBali, Rabu (7/7/2021).

Sebelum pandemi, salah satu restoran yang berada di Singaraja beromzet kurang dari Rp 200 juta per bulan. Akhirnya, restoran ini ditutup dan digunakan sebagai tempat produksi Kacang Ajik yang mampu menghasilkan Rp 300 juta per bulan.

Selain kacang Ajik, pihaknya juga memproduksi oleh-oleh lain seperti Pie susu Ajik, Bakpia Ajik, dan Bali Banana Crispy.

“Produk yang paling best seller adalah pie susu, setiap hari Krisna produksi 5.000 pie susu,” paparnya.

Dengan produk oleh-oleh yang diproduksi, kini Krisna kembali mempekerjakan 2.000 karyawannya. Pihaknya tidak ingin menunggu pandemi benar-benar berakhir tetapi mulai berdamai dengan keadaan.

Ia mengajak generasi muda agar tidak gengsi untuk bertani. Pertanian adalah sektor yang stabil, namun harus ada pekerjaan pokok lain sebagai penunjang.

“Sebagai pengusaha saya harus bisa memotivasi dan memberikan contoh langsung kepada anak-anak muda agar tidak malu bertani, dan cerdas mengolah waktu,” tambah ayah dari empat anak ini.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait