Asal Usul Nama Kain Endek Bali

Endek adalah kain tenun yang berasal dari Bali. Kain endek merupakan hasil dari karya seni rupa terapan, yang berarti karya seni yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

Pebriansyah Ariefana
Senin, 22 Februari 2021 | 14:02 WIB
Asal Usul Nama Kain Endek Bali
Tanggapan netizen soal Selasa hari pakai endek di Bali. (Instagram/@denpasar.viral)

SuaraBali.id - Asal usul nama kain Endek Bali dari kata gendekan atau ngendek. Ngendek ini berarti diam atau tetap, tidak berubah warnanya.

Endek adalah kain tenun yang berasal dari Bali. Kain endek merupakan hasil dari karya seni rupa terapan, yang berarti karya seni yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan menenun atau pertenunan endek di Bali dapat dijumpai di kabupaten Karangasem, Klungkung, Gianyar, Buleleng, Jembrana dan Kota Denpasar.

Tenun ikat endek memiliki sebutan yang beragam di setiap daerah, endek yang dibuat di Kabupaten Gianyar dikenal dengan nama endek Gianyar, di Klungkung terkenal dengan nama endek Klungkung

Baca Juga:Sejarah Endek Bali dari Desa Gelgel Hingga Dilirik Christian Dior

Kain Endek Bali jadi perbincangan hangat saat ini setelah Gubernur Bali mengeluarkan surat edarah pemakaian Endek Bali setiap hari selama oleh masyarakat dan wajib dipakai PNS. Sejarah Endek Bali sangat panjang hingga dilirik desainer Christian Dior.

Soal Endek Bali pernah dibahas oleh Desak Made Oka Purnawati dalam ejournal Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Endek bali berkembang sejak tahun 1985. Awal mula berkembangnya kerajinan menenun diperkirakan dimulai sejak zaman pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel,Klungkung.

Kerajinan menenun ini kemudian berkembang ke wilayah lain disekitar Klungkung dan salah satunya di Desa Sulang. Sekalipun tenun sudah dikenal sejak zaman Gelgel, namun
perkembangan tenun endek di Sulang baru berkembang pesat setelah kemerdekaan.

Salah satu pengrajin tenun di Bali, Nyoman Resna mengatakan perkembangan kerajinan tenun ikat endek di Desa Sulang dimulai dari tahun 1975 yang dipelopori oleh Wayan Rudja.

Seiring perkembangan waktu, ketika boming endek terjadi di Desa Sulang, Wayan Rudja membuka usaha tenun endeknya di luar Desa Sulang untuk memperluas akses produksi dan pemasaran. Sepeninggal Wayan Rudja masyarakat Desa Sulang mulai membuka usaha kerajinan tenun endek dan perkembangan itu semakin pesat setelah di tahun 1985, pemerintah mengucurkan bantuan dana dan pembinaan dari UNDP dan BUMN untuk mengembangkan kerajinan tenun endek di Desa Sulang.

Baca Juga:Hari Ini Bali Terancam Banjir Besar karena Hujan Lebat

Para pengrajin tenun endek yang menyambut dengan antusias mengembangkan usahanya diantaranya adalah Nyoman Resna dan Nyoman Dharma. Sekalipun perkembangan kerajinan tenun endek di Desa Sulang mengalami pasang surut atau dinamika akibat lesunya perekonomian dan terputusnya bantuan pembinaan dari pemerintah.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak