Muhammad Yunus
Rabu, 16 September 2026 | 16:56 WIB
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam bersama Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin. Serta Kasi Pengkajian dan Perawatan Koleksi Museum NTB Ardi Aulia Rahman memperlihatkan artefak hibah kain tenun pesujudan di ruang rapat Museum NTB, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (16/9/2026) [SuaraBali.id/ANTARA]
Baca 10 detik
  • Kolektor asal Australia Michael Abbott menghibahkan kain tenun pesujudan berusia lebih dari seratus tahun kepada Museum NTB di Mataram pada 16 September 2026.
  • Pengembalian kain bersejarah suku Sasak berukuran 163 kali 40 sentimeter tersebut merupakan hasil diplomasi budaya Pemerintah Provinsi NTB di Australia pada September 2026.
  • Kain pesujudan kuno bermotif manusia dan masjid dari Bayan, Lombok Utara, itu dulunya berfungsi sebagai alas beribadah dan simbol status penghulu.

SuaraBali.id - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima hibah kain tenun pesujudan yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun setelah dikembalikan oleh kolektor asal Australia bernama Michael Abbot.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan kain tenun asal Bayan, Kabupaten Lombok Utara tersebut kemungkinan dibuat pada rentang tahun 1875 hingga 1925.

"Kain itu merupakan hibah yang diberikan langsung oleh kolektor Michael Abbott kepada Wakil Gubernur NTB yang disaksikan oleh Ketua DPR NTB dan Ketua Dekranasda NTB," ujarnya saat ditemui di Mataram, Rabu 16 September 2026.

Nuralam menjelaskan hibah kain dilakukan karena kolektor meyakini Museum NTB mampu merawat dan menjaga kain tersebut sebagai bagian dari warisan budaya daerah.

Kain pesujudan adalah kain tradisional masyarakat untuk kegiatan upacara keagamaan dan upacara adat di Lombok Utara. Kain itu secara historis berfungsi sebagai alas bersujud atau beribadah.

Menurut dia, kain pesujudan semestinya memang dikembalikan ke daerah asal karena merupakan kain tradisional masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok.

"Ini adalah kain dari Bayan, Lombok Utara. Panjang kain 163 sentimeter dengan lebar 40 sentimeter," kata Nuralam.

Lebih lanjut, Nuralam menyampaikan pengembalian kain pesujudan tersebut merupakan bagian dari upaya diplomasi budaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB saat mengikuti peluncuran buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles di Australia pada 11-12 September 2026.

Kain itu memiliki motif manusia yang dikonfigurasikan dengan masjid sebagai salah satu ciri khas kain pesujudan. Warna kain awalnya putih, tapi karena sudah berusia lebih dari satu abad membuat warna kain berubah menjadi cokelat.

Baca Juga: Kolektor Australia Bongkar Keindahan dan Filosofi Kain Tradisional Lombok

Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin mengatakan kain tersebut memiliki motif manusia yang dikonfigurasikan dengan masjid sebagai salah satu ciri khas kain pesujudan.

Kain pesujudan memiliki kaitan erat dengan perkembangan Islam di Pulau Lombok. Pada awal masuknya Islam sekitar abad ke-16, kain tersebut digunakan sebagai sajadah.

Seiring perkembangan budaya di Lombok, imbuh Bunyamin, maka penggunaan kain pesujudan bergeser dan digunakan oleh penghulu sebagai simbol status dalam bidang agama.

"Sampai sekarang yang masih mempertahankan kain pesujudan digunakan oleh penghulu ada di Bayan Timur. Di Desa Bilo Petung, Kecamatan Sembalun, kain pesujudan terakhir digunakan tahun 1980 oleh penghulu," pungkas Bunyamin.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya pada 18 November 2025, Michael Abbot juga pernah menghibahkan kain pesujudan bersama naskah kuno kepada Museum NTB.

Pria yang berprofesi sebagai pengacara tersebut juga pernah menyerahkan hibah berupa artefak Alquran tulis tangan abad ke-17 yang berasal dari India saat mengunjungi Museum NTB pada Juli 2024.

Load More